Gambar Dr. Kaswad Sartono:  Ilaikal Mashir, kita akan kembali ke titik semula.

Dr. Kaswad Sartono: Ilaikal Mashir, kita akan kembali ke titik semula.

UIN Alauddin Online - Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Kerjasama (AAKK) UIN Alauddin Makassar Dr. KH. Kaswad Sartono M.Ag di sela-sela kunjungan pimpinan ke lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan ke-74 di Kecamatan Banggae Kabupaten Majene mengisi dan bertindak sebagai khatib Jum'at di Masjid Agung “Ilaikal Mashir” Kab. Majene, Jumat (23/2/2024).


Dalam khutbahnya, Kaswad Sartono menyampaikan bahwa “al-Islamu diin wa daulah” bahwa dalam Islam itu ada urusan agama dan ada urusan negara. Urusan keagamaan membutuhkan dukungan negara dalam rangka mencapai kesempurnaan urusan agama. 

Misalnya untuk melaksanakan ibadah haji sebagai rukun Islam, dibutuhkan adanya paspor dan visa yang dikeluarkan oleh negara baik negara Indonesia maupun Arab Saudi. Dalam syariah pernikahan juga dibutuhkan kehadiran negara. Begitu juga dalam kehidupan ini, di samping ada kewajiban zakat juga ada kewajiban pajak.
Berdasarkan konsep inilah, maka setiap umat beragama diharapkan memiliki  pemahaman yang komprehenship baik dalam konteks keagamaan maupun kebangsaan.

Kemudian, dalam pespektif Islam diajarkan bahwa negara yang baik, katakanlah “negara modern”  itu paling tidak  mengandung tiga hal pokok yaitu (1) keamanan negara, (2) kesejahteraan rakyat, dan (3) keagamaan. Pandangan ini berdasar pada doa Nabi Ibrahim kepada Tuhan:  “Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizeki dari buah-buahan kepada mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.”

Nah, untuk mewujudkan negara yang aman, sejahtera,  dan religius, termasuk secara lokal untuk mewujudkan visi Kabupaten Majene yang unggul,maju,dan religius, maka pemerintah bersama seluruh komponen bangsa, di samping harus ikhtiar memanfaatkan seluruh sumberdaya yang dimiliki, baik SDM, anggaran dan pemanfaatan instrumen teknologi canggih, harus juga memiliki koneksitas “sandaran transendental” yang baik kepada Allah swt antara lain tawakal, pertaubatan (al-inabah), dan kesadaran untuk kembali (ilaikal mashir). 

Tiga sandaran transendental itu, menurut Kaswad yang juga Ketua Tanfidziyah NU Makassar adalah  merujuk pada doa Nabi Ibrahim as: “rabbana ‘alaika tawakkalnaa wa ilaika anabnaa wa ilaikal mashiir”
Hal yang menarik dari tiga sandaran transendental itu bagi khatib adalah nilai-nilai yang terkandung dalam konsep “ilaikal mashir” (hanya kepada-Mu ya Allah, kami akan kembali). 
Kenapa para pendiri masjid Agung ini sepakat memberikan nama “ilaikal mashir”? Apa substansi dan cita-cita besarnya? 
Dalam analisa sufistiknya paling tidak adalah bahwa masjid agung ini sedapat mungkin mampu  dijadikan wasilah untuk membangun “kesadaran kembali” bagi seluruh jamaahnya bahwa pada suatu saat manusia pasti akan kembali pada titik awalnya. Manusia pada awalnya dari alam ruh, maka pasti akan kembali ke alam ruh lagi. Manusia pada awalnya berada dalam kondisi kesendirian ketika dalam alam rahim, maka dia pasti akan kembali ke alam kesendirian yakni ketika di alam kubur. Manusia pada awalnya pada kondisi tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri yakni ketika bayi yang baru lahir, maka  dia pasti akan kembali kepada kondisi tidak berdaya yakni ketika jadi mayat. Manusia pada awalnya adalah rakyat biasa, kemudian jadi pejabat atau orang penting, maka pasti dia akan kembali menjadi rakyat biasa lagi karena pensiun. Dan, setiap manusia adalah milik Allah, maka pasti akan kembali kepada Allah dengan mempertanggung jawabkan seluruh amal perbuatannya masing-masing.  Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Inilah substansi dan hakiki dari pemaknaan “ilaikal mashir.” Wallahu a’lam.

Previous Post Kebijakan Rektor, Hanya 31 Mahasiswa FEBI UIN Makassar Diwisuda
Next Post Tingkatkan Status Akreditasi, Prodi Ilmu Perpustakaan UIN Makassar Susun ISK