Perbankan Syariah UIN Alauddin Bedah Masa Depan Ekonomi Syariah di Era AI Lewat IB Fair 2026
UIN Alauddin Online — Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Alauddin Makassar mengangkat tantangan dan peluang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bagi masa depan ekonomi syariah melalui Islamic Banking Fair (IB Fair) ke-11 Tahun 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan di Aula FEBI UIN Alauddin Makassar, Senin (12/10/2026), ini dirangkaikan dengan seminar nasional bertema “Membaca Arah Baru Ekonomi Syariah di Era AI dan Generasi Digital”.
Seminar tersebut mempertemukan akademisi, praktisi perbankan, dan mahasiswa untuk membahas transformasi industri keuangan syariah di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Ketua Jurusan Perbankan Syariah FEBI UIN Alauddin Makassar, Dr. Ismawati, S.E., M.Si., dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapan mahasiswa menghadapi perubahan industri melalui penguatan kompetensi akademik, penguasaan teknologi, dan pemahaman prinsip syariah.
“Mahasiswa Perbankan Syariah harus mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan prinsip dan nilai-nilai syariah. Kita tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus mampu membaca perubahan, beradaptasi, dan menghadirkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan industri keuangan syariah,” ujarnya.
Menurut Ismawati, perkembangan teknologi menuntut mahasiswa tidak hanya menguasai konsep ekonomi dan keuangan syariah, tetapi juga mampu memahami perubahan perilaku masyarakat serta menjawab kebutuhan industri yang semakin terdigitalisasi.
Seminar nasional ini menghadirkan Pimpinan BSI KCP Veteran Makassar, Sencaka Aryono, dan dosen Jurusan Perbankan Syariah UIN Alauddin Makassar, Dr. Nasrullah bin Sapa, Lc., M.M. Diskusi dipandu Reyhan Yuda Perkasa, anggota Bidang Advokasi HMJ Perbankan Syariah periode 2026.
Sencaka Aryono menyoroti transformasi digital sebagai faktor penting dalam meningkatkan kualitas layanan perbankan dan menjawab perubahan kebutuhan nasabah. Menurutnya, inovasi teknologi perlu diarahkan tidak hanya pada kecepatan layanan, tetapi juga pada peningkatan pengalaman nasabah dan penguatan kepercayaan.
“Digitalisasi bukan hanya tentang menghadirkan layanan yang lebih cepat, tetapi juga bagaimana membangun pengalaman nasabah yang lebih baik dan menjaga kepercayaan mereka. Perbankan syariah harus mampu berinovasi agar tetap relevan di tengah perubahan perilaku masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Nasrullah bin Sapa menilai perkembangan AI dan teknologi digital membuka peluang bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pengembangan ekonomi syariah. Namun, penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan pemahaman prinsip ekonomi Islam, etika, dan tanggung jawab sosial.
“AI dan transformasi digital harus kita tempatkan sebagai peluang untuk mengembangkan ekonomi syariah, bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Tantangannya adalah bagaimana inovasi tersebut tetap berpijak pada prinsip syariah, menghadirkan kemaslahatan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Diskusi tersebut menyoroti pentingnya kesiapan sumber daya manusia, penguatan literasi keuangan syariah, serta pengembangan layanan digital yang inovatif dan tetap berlandaskan prinsip syariah. Di tengah perubahan industri, kemampuan beradaptasi perlu diimbangi dengan integritas dan komitmen menjaga kepercayaan masyarakat.
Melalui IB Fair ke-11 2026, HMJ Perbankan Syariah FEBI UIN Alauddin Makassar berupaya memperluas ruang kolaborasi antara mahasiswa, akademisi, dan praktisi industri. Kegiatan ini diharapkan mendorong mahasiswa menghasilkan gagasan inovatif sekaligus mempersiapkan generasi muda yang mampu mengambil peran dalam pengembangan industri keuangan syariah di era digital.