Gambar Rektor UIN Alauddin Melaporkan Hasil SPAN UM-PTKIN Tahun 2019

Rektor UIN Alauddin Melaporkan Hasil SPAN UM-PTKIN Tahun 2019

UIN Online – Panitia Pusat SPAN UM-PTKIN dan Kemenag RI menggelar Acara Focus Group Discussion Evaluasi Hasil Pelaksanaan SPAN UM-PTKIN Tahun 2019. Acara  dibuka Menteri Agama RI  Lukman Hakim Saifuddin dengan pemukulan gong disaksikan oleh Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, Ketua Forum Rektor Babun Suharto dan Ketua Umum SPAN UM-PTKIN tahun 2019 Rektor UIN Alauddin Makassar Hamdan Juhannis. Tampak hadir dalam acara Direktur Diktis Arskal Salim, Para Rektor, Wakil Rektor I, Ketua PTKIN se-Indonesia, dan juga Kakanwil Kemenag Prov Bangkabelitung. Acara FGD bertempat di Hotel BW Suite Belitung, Tanjungpandan, Bangka Belitung, Jumat (20/09).

Kementerian Agama dalam lima tahun terakhir telah memperkuat sarana prasarana Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) melalui skema pembiayaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Hampir seluruh PTKIN sudah ditunjang sarana prasarana baru dan memadai. 

Menurut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, sudah saatnya PTKIN memberi bukti dalam kualitas pembelajaran dan lulusan.

“Lima tahun ke depan, PTKIN harus bicara kualitas,” tegas Menag Lukman saat memberikan arahan sekaligus membuka acara Focused Group Discussion Evaluasi Pelaksanaan Seleksi Prestasi Akademik Nasional dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-UM PTKIN) Tahun 2019 di Tanjungpandan, Bangka Belitung, Jumat (20/09).

Menag mengingtkan bahwa hal terpenting dari evaluasi adalah tindaklanjut. 

 “Ini aspek kualitatifnya? Angka-angka berbicara, lalu tindaklanjutnya apa?,” kata Menag.

Disampaikan Menag Lukman, ketika menerima mahasiswa baru, orientasi PTKIN ke mana dan tujuannya apa. Apakah tujuan Perguruan Tinggi (PT) seperti UIN, IAIN dan STAIN, menerima mahasiswa baru dalam rangka mendapatkan dana. Karena, ada asumsi bahwa semakin banyak menerima mahasiswa maka semakin banyak dana yang diterima. Atau karena belas kasihan. Atau kualitas?

“Sebagai PTKIN kita ingin menjadi Perguruan Tinggi yang berkualitas,” tegas Menag.

Kalau berbicara kualitas perguruan tinggi, kata Menag Lukman, bukan semata-mata persoalan banyak-banyakan mahasiswa. Oleh karena itu, Menag Lukman berharap diperlukan adanya kajian, riset yang serius terhadap eksistensi PTKIN ke depan, agar tidak terjebak pada rutinitas semata dengan melihat lingkungan strategis ke-Indonesia-an dan dunia.

“Saya berharap tahun depan ini dipersiapkan dengan lebih matang lagi,” kata Menag.

Menag Lukman menyampaikan bahwa seorang Rektor harus bisa memikirkan pengembangan prodi dan manajemen tatakelola sebuah perguruan tinggi. Untuk itu, diperlukan kajian, semisal dari sisi pembiayaan dan berapa batas minimal mahasiswa baru.

 “Jangan memaksakan kemampuan daya tampung kampus. Semakin banyak mahasiswa, semakin susah untuk mengeluarkan output yang baik,” kata Menag.

Sebelumnya Dirjen Pendis Kamaruddin Amin dalam sambutannya menyinggung tentang diperlukannya reorientasi penerimaan mahasiswa baru tahun 2020. Misalnya, dengan melihat jumlah mahasiswa saat ini secara keseluruhan di Indonesia kurang lebih berjumlah 6 juta mahasiswa, sebanyak 2 juta mahasiswa itu mengambil jurusan pendidikan.

Sementara, lanjut Kamaruddin Amin, data saat ini guru sudah berjumlah hampir 1 juta, kemampuan anggaran untuk sertifikasi hanya 8000 guru setiap tahun dan di Madrasah masih ada 300ribu guru yang belum disertifikasi.

 “Tahun 2020, tidak perlu menerima mahasiswa tarbiyah terlalu banyak, 1 kelas atau 2 kelas saja. Lebih baik tahun depan kampus diarahkan fokus melaksanakan PPG,” kata Kamaruddin.

Rektor UIN Alauddin Prof. Hamdan Juhannis selaku Ketua Umum SPAN UM-PTKIN pada kesempatan ini melaporkan Hasil Pelaksanaan Kegiatan SPAN UM-PTKIN Tahun 2019 di hadapan Menteri dan seluruh Rektor dan Warek I  PTKIN se Indonesia.

Previous Post Keempat Kalinya, UIN Alauddin Ikuti Sulawesi Education and Techno Expo
Next Post Tingkatkan Kualitas Kampus, UIN Alauddin Gelar Coaching Clinic Borang Akreditasi