Hamdan Juhannis: Jabatan Membuat Dihormati, Kontribusi Membuat Dibutuhkan
UIN Alauddin Online — Jabatan bisa membuat seseorang dihormati, tetapi kontribusilah yang membuatnya tetap dibutuhkan. Pesan itu disampaikan Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, saat menanggapi pemikiran tiga guru besar yang dikukuhkan dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Kamis (29/10/2026).
Di hadapan sivitas akademika dan para undangan, Rektor mengajak hadirin merefleksikan makna keberadaan seseorang di tengah masyarakat, termasuk ketika jabatan yang melekat padanya telah berakhir.
“Dihormati itu karena posisi, dibutuhkan itu karena kontribusi,” ujarnya.
Menurut Hamdan, penghormatan yang bertumpu pada jabatan berbeda dari keberartian yang lahir melalui sumbangsih. Ia menggambarkan perbedaan itu dengan analogi sederhana: ketika orang yang dihormati tidak hadir, kursinya menjadi kosong. Namun, ketika orang yang dibutuhkan tidak hadir, suasananya yang terasa kosong.
Pesan tersebut disampaikan dalam sidang senat yang turut dihadiri sejumlah tokoh pemerintahan, akademisi, dan pengusaha. Di antaranya pengusaha nasional Aksa Mahmud, Bupati Gowa Darmawangsyah Muin, mantan Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan, anggota DPR RI Syamsu Rizal, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, mantan Wali Kota Makassar Danny Pomanto dan Ilham Arief Sirajuddin, serta Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Sulawesi Selatan Badris Salam.
Dalam sambutannya, Hamdan merespons tiga orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ulfiani Rahman, S.Ag., M.Si., dalam kepakaran Psikologi Pendidikan Agama Islam; Prof. Dr. Rahma Amir, M.Ag., dalam kepakaran Fikih Hadhanah; serta Prof. Dr. H. Abdul Rahman HI. Abdul Qayum, M.Ag., dalam kepakaran Hadis Ahkam.
Pendidikan bukan sekadar mencetak pemimpin
Menanggapi orasi Prof. Ulfiani Rahman berjudul Merawat Jiwa, Membangun Peradaban, Hamdan menyoroti konsep pendidikan perhatian yang disampaikan dalam orasi tersebut. Menurutnya, ketidakmampuan seseorang mengelola perhatian dapat membuatnya mudah terbawa oleh hal-hal yang menarik, sekalipun hal itu berpotensi merusak masa depannya.
Ia menghubungkan gagasan tersebut dengan persoalan yang dihadapi generasi muda, termasuk penyalahgunaan narkoba dan pengaruh negatif lainnya. Persoalannya bukan hanya pengetahuan tentang baik dan buruk, melainkan juga kemampuan mengendalikan diri ketika berhadapan dengan godaan.
Hamdan kemudian menyoroti aspek ketahanan jiwa atau resilience. Ia menilai pendidikan perlu memberi ruang lebih besar bagi pembentukan kemampuan menghadapi kekecewaan, kesedihan, dan penolakan.
Pendidikan, menurutnya, tidak cukup hanya mengarahkan anak untuk menjadi pemimpin yang hebat. Anak juga perlu belajar menjadi anggota tim yang baik, menerima peran orang lain, dan tidak selalu menempatkan diri sebagai pusat perhatian.
Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan fenomena “dua matahari” atau matahari kembar, ketika seseorang sulit menerima keberadaan pihak lain yang juga memiliki pengaruh dan peran penting.

Pengasuhan anak dan tantangan otoritas orang tua
Dalam menanggapi orasi Prof. Rahma Amir berjudul Hadanah Berbasis Hak Anak, Rekonstruksi Paradigma Fikih Keluarga Kontemporer, Hamdan mengangkat persoalan keseimbangan antara pemenuhan hak anak dan tanggung jawab orang tua dalam pengasuhan.
Ia mempertanyakan apakah sejumlah persoalan karakter generasi muda saat ini turut berkaitan dengan penerapan konsep perlindungan anak yang tidak dikelola secara proporsional.
Hamdan menyoroti tantangan orang tua menghadapi dominasi gawai dan teknologi digital. Menurutnya, sebagian orang tua mengalami kesulitan menetapkan batas penggunaan gawai karena khawatir menyakiti perasaan anak. Ia juga mengangkat persoalan ketika perlindungan terhadap anak membuat orang tua kesulitan menegakkan disiplin atau menghadapi konflik anak dengan guru.
Dalam refleksinya, ia menekankan pentingnya kemampuan anak menerima batasan, termasuk ketika harus mendengar kata “tidak” dari orang tua.
Pandangan tersebut disampaikan sebagai respons dan bahan diskusi atas gagasan pengasuhan berbasis hak anak, yang menurut Hamdan perlu terus direfleksikan dalam kaitannya dengan tanggung jawab pendidikan keluarga.
Mempertahankan keyakinan tanpa merendahkan kemanusiaan
Sementara itu, dalam merespons orasi Prof. Abdul Rahman HI. Abdul Qayum berjudul Isu LGBT antara Fenomena Alamiah dan Realitas Sosial: Telaah Kritis Hadis Ahkam, Hamdan mempertanyakan posisi argumentasi yang ia tangkap dari pemaparan tersebut.
Ia menginginkan kejelasan mengenai bagaimana isu itu ditempatkan dalam kerangka pembahasan akademik, terutama dalam kaitannya dengan keyakinan dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Dalam sambutannya, Hamdan mengangkat pentingnya mempertahankan keyakinan tanpa merendahkan kemanusiaan. Ia membuka ruang bagi pembahasan lebih lanjut mengenai persoalan tersebut.
Respons ini menjadi bagian dari refleksi Rektor terhadap tiga orasi yang mengangkat tema berbeda, tetapi sama-sama bersinggungan dengan persoalan manusia, pendidikan, dan kehidupan sosial.
Menutup sambutannya, Hamdan menyampaikan selamat kepada ketiga guru besar beserta keluarga. Ia mengapresiasi reputasi akademik mereka sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga karakter dan terus memberikan kontribusi.
Bagi Hamdan, gelar dan jabatan merupakan bagian dari pengakuan, tetapi pemikiran dan sumbangsihlah yang membuat seseorang tetap berarti bagi orang lain.