Gambar Prof. Susmihara Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Soroti Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dan Spirit

Prof. Susmihara Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Soroti Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dan Spirit

UIN Alauddin Online — Kecerdasan intelektual tidak cukup untuk membentuk manusia yang utuh. Pendidikan juga perlu menanamkan nilai budaya dan spiritualitas agar kemampuan berpikir berjalan bersama kepekaan sosial dan moralitas.

Gagasan tersebut disampaikan Prof. Dr. Susmihara, M.Pd., dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Tetap Bidang Pendidikan Islam Budaya Nusantara Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar, Selasa (29/9/2026).

Dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa yang berlangsung di Auditorium Kampus 2 UIN Alauddin Makassar, Prof. Susmihara membawakan pidato berjudul “Ketika Kecerdasan Kehilangan Kemanusiaan: Rekonstruksi Paradigma Pendidikan Karakter Berbasis Budaya dan Spiritualitas.”

Ia menyoroti perkembangan teknologi dan pendidikan modern yang, menurutnya, perlu diimbangi dengan penguatan nilai kemanusiaan. Pendidikan tidak semestinya berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga membentuk karakter dan cara seseorang memperlakukan sesama.

“Pendidikan tanpa nilai budaya ibarat kapal tanpa kompas; ia mungkin bergerak cepat, tetapi tidak selalu menuju arah yang tepat,” ujar Prof. Susmihara.

Menurutnya, pendidikan yang terlalu menitikberatkan keberhasilan pada nilai rapor dan angka ujian berisiko mempersempit makna belajar. Lulusan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik dan daya saing, tetapi juga perlu memiliki kepekaan terhadap lingkungan sosial serta penghargaan terhadap martabat manusia.

“Pendidikan yang melupakan nilai spiritual akan menghasilkan generasi yang cerdas, tetapi berhati keras,” katanya.

Sebagai salah satu pendekatan, Prof. Susmihara menawarkan nilai budaya Bugis siri’, pesse, dan were sebagai landasan etik dalam pembentukan karakter. Nilai-nilai tersebut dipadukan dengan prinsip Islam untuk membangun karakter manusia yang berintegritas atau tau tongeng.

Ia juga menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge dalam lingkungan pendidikan. Menurutnya, nilai saling memanusiakan, memuliakan, dan mengingatkan dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta didik, terutama di tengah berbagai tantangan sosial yang berkembang.

Bagi Prof. Susmihara, kearifan budaya Nusantara bukan sekadar pelengkap dalam pendidikan. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bagian dari fondasi pembentukan karakter ketika dipadukan dengan kecerdasan intelektual dan spiritualitas.

Pengukuhan tersebut menandai bertambahnya Guru Besar di lingkungan UIN Alauddin Makassar sekaligus memperkuat kontribusi Fakultas Adab dan Humaniora dalam pengembangan kajian pendidikan Islam dan budaya Nusantara.

Previous Post Guru Besar UIN Alauddin Prof. Andi Marjuni Terima SK Kepengurusan MUI Sulsel 2026–2031
Next Post Pesan Rektor di Wisuda Angkatan 122: Filosofi Tiga Amplop dan Prioritas Waktu