Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Dalami Praktik Keprotokolan di Primaya Hospital
UIN Alauddin Online— Dalam rangka pemenuhan tugas mata kuliah Retorika dan Keprotokoleran. Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar, mendalami praktik keprotokolan dan manajemen acara di Primaya Hospital, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan tersebut memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami secara langsung proses perencanaan acara, koordinasi tim, dan penerapan keterampilan komunikasi dalam lingkungan kerja profesional, khususnya di institusi pelayanan kesehatan.
Dalam sesi wawancara, mahasiswa berdiskusi dengan dr. Christianto Matulatan, dokter umum sekaligus Kepala Divisi Sumber Daya Manusia dan Umum (Human Resources and General Affairs/HRGA) Primaya Hospital.
Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan keprotokolan di rumah sakit tersebut mengacu pada kaidah umum yang berlaku di berbagai instansi, dengan penyesuaian berdasarkan kebutuhan dan karakteristik kegiatan.
Penerapannya mencakup berbagai agenda, mulai dari kunjungan resmi instansi, kegiatan sosialisasi, hingga visitasi rumah sakit. Setiap kegiatan membutuhkan persiapan terencana agar seluruh rangkaian acara berjalan tertib dan sesuai tujuan.
Christianto menjelaskan bahwa persiapan acara biasanya diawali dengan rapat atau pengarahan (briefing) untuk menyamakan pemahaman panitia. Waktu persiapan disesuaikan dengan skala kegiatan, mulai dari satu hingga dua hari sebelumnya untuk acara sederhana, hingga sekitar tujuh hari untuk kegiatan yang lebih besar.
“Keberhasilan sebuah acara sangat ditentukan oleh persiapan dan koordinasi tim. Karena itu, sebelum kegiatan dilaksanakan, kami melakukan rapat atau briefing untuk membagi tugas, menentukan penanggung jawab, serta memastikan seluruh kebutuhan teknis sudah dipersiapkan dengan baik,” jelasnya.
Pembagian tugas mencakup penanggung jawab kegiatan, pembawa acara, tim dokumentasi, serta petugas yang menangani kebutuhan teknis. Koordinasi tersebut diperlukan agar setiap personel memahami tanggung jawabnya dan seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan efektif.
Selain persiapan teknis, pengaturan tempat duduk dan penyambutan tamu juga menjadi bagian penting dalam keprotokolan. Penempatan pejabat, pimpinan, dan narasumber utama disesuaikan dengan konsep acara serta kedudukan masing-masing. Ketua panitia bertanggung jawab menyusun denah tempat duduk, sedangkan kegiatan yang melibatkan pejabat resmi memerlukan koordinasi dengan direktur rumah sakit.
Penyambutan tamu pun dilakukan dengan mempertimbangkan jabatan dan kedudukannya. Pimpinan instansi umumnya disambut langsung oleh direktur rumah sakit, sementara tamu setingkat kepala bidang dapat disambut oleh kepala divisi terkait.
“Penyambutan tamu dan pengaturan tempat duduk perlu direncanakan sejak awal. Kami mempertimbangkan jabatan tamu, susunan acara, serta koordinasi dengan pimpinan agar setiap tamu mendapatkan penyambutan dan penempatan yang sesuai,” ungkap Christianto.
Ketentuan busana dalam acara turut ditetapkan melalui rapat persiapan. Misalnya, jajaran manajemen mengenakan batik, sedangkan staf menggunakan seragam Primaya. Pengaturan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseragaman dan menyesuaikan penampilan dengan karakter kegiatan.
Di samping aspek teknis, kemampuan komunikasi menjadi kompetensi penting dalam pelaksanaan keprotokolan, terutama bagi pembawa acara. Menurut Christianto, pengalaman perlu didukung kemampuan mengatur intonasi agar penyampaian acara terdengar jelas, profesional, dan sesuai dengan suasana kegiatan.
“Kalau memang sudah berpengalaman membawa acara, itu kami lebih prefer,
paling dilatih sedikit lagi intonasi-intonasinya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan keprotokolan di rumah sakit tetap mengacu pada kaidah umum, tetapi penerapannya harus disesuaikan dengan jenis kegiatan, karakteristik tamu, dan kebutuhan acara. Karena itu, pemahaman terhadap susunan kegiatan serta kemampuan berkoordinasi menjadi bekal penting bagi setiap personel yang terlibat.
Melalui kunjungan akademik ini, mahasiswa diharapkan mampu menghubungkan teori yang dipelajari dalam mata kuliah Retorika dan Keprotokoleran dengan praktik di dunia kerja. Pemahaman tersebut menjadi bekal untuk mengembangkan kompetensi profesional dalam bidang komunikasi, hubungan masyarakat, dan pengelolaan acara.