UIN Alauddin Makassar Siap Dukung Akselerasi IAIN Pontianak Menuju UIN
UIN Alauddin Online— Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar berbagi pengalaman pengembangan akademik dan kelembagaan dengan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak dalam kunjungan silaturahmi di Ruang Rektor IAIN Pontianak, Sabtu, (17/10/2026).
Rombongan UIN Alauddin Makassar terdiri dari Wakil Rektor II UIN Alauddin Makassar Prof. Dr. H. Andi Aderus, Lc., M.A., Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. H. Abustani Ilyas, M.Ag., Wakil Direktur Pascasarjana Prof. Dr. Hasyim Haddade, S.Ag., M.Ag., Prof. Dr. Syahruddin Usman, M.Pd., Prof. Dr. Mukhtar Lutfi, M.Pd., dan Dr. H. Abdul Wahid Haddade, Lc., M. Hi.
Kunjungan tersebut disambut Rektor IAIN Pontianak, Prof. Dr. H. Wajidi Sayadi, M.Ag., bersama Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Prof. Dr. Zaenudin, M.A., Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak, Prof. Dr. Ibrahim, S.Ag., M.A., serta Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Dr. Patmawati, M.Ag.
Rektor IAIN Pontianak, Wajidi Sayadi, mengapresiasi kunjungan tersebut dan menyatakan keterbukaan kampusnya untuk belajar dari pengalaman UIN Alauddin Makassar, khususnya dalam pengembangan akademik dan pemenuhan persyaratan alih status.
Ia menjelaskan bahwa salah satu persyaratan yang tengah dipersiapkan ialah penyediaan lahan kampus minimal 10 hektare. Luas lahan yang tersedia saat ini disebut telah mendekati ketentuan tersebut. Pihaknya juga telah berkomunikasi dengan Gubernur Kalimantan Barat mengenai rencana penambahan lahan sekitar tiga hektare.
Selain dukungan pemerintah daerah, sejumlah tokoh masyarakat disebut telah menyatakan kesediaan menyerahkan tanah untuk pengembangan kampus. IAIN Pontianak juga merencanakan pembukaan sejumlah fakultas umum sebagai bagian dari pengembangan institusi.
“Mudah-mudahan 2027 sudah masuk,” ujar Wajidi, merujuk pada harapannya agar proses alih status IAIN Pontianak menjadi UIN dapat segera terealisasi.
Direktur Pascasarjana UIN Alauddin Prof. Abustani yang memimpin rombongan, menyampaikan bahwa pengembangan pascasarjana membutuhkan perencanaan akademik dan kelembagaan yang berjalan beriringan.
Ia menyarankan agar pengurusan program studi dan fakultas baru dilakukan secara paralel dengan proses alih status, sehingga persiapannya tidak harus menunggu surat keputusan perubahan status diterbitkan.
“Jangan menunggu SK alih status terbit baru mempersiapkan program studi dan fakultas. Keduanya perlu berjalan beriringan agar ketika perubahan status terealisasi, pengembangan akademik juga sudah siap,” tandasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pembentukan tim khusus yang bertugas mengoordinasikan persiapan transformasi, termasuk menjalin komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk pembukaan program studi strategis seperti kedokteran.
Menurutnya, pengembangan institusi perlu disesuaikan dengan kondisi dan ketersediaan sumber daya manusia di daerah. Namun, penyesuaian tersebut tetap harus memperhatikan kualitas akademik agar program studi yang dibuka dapat berkembang secara berkelanjutan.
Prof. Abustani menyatakan, pengalaman dan kapasitas UIN Alauddin dapat menjadi modal untuk membangun kolaborasi dengan IAIN Pontianak. Kerja sama itu dapat diarahkan pada pembinaan akademik, pengembangan program studi, serta penguatan tata kelola pendidikan pascasarjana.
“Kalau ada kebutuhan, kami siap bekerja sama,” tandasnya.
Sementara itu, Direktur Pascasarjana IAIN Pontianak, Prof. Ibrahim, menyampaikan harapan agar UIN Alauddin dapat memberikan pembinaan dan pendampingan yang lebih intensif. Ia menilai pengalaman UIN Alauddin dalam mengembangkan program studi dan meningkatkan jumlah mahasiswa dapat menjadi referensi penting bagi institusinya.
Pascasarjana IAIN Pontianak saat ini memiliki empat program studi magister (S2) dan satu program doktor (S3), dengan jumlah mahasiswa sekitar 300 orang.
“Di Makassar sudah ada 15 program studi, kami baru empat untuk S2 dan S3 baru satu. Mahasiswa pascasarjana di sana sekitar tiga ribu, kami baru tiga ratusan,” ujarnya.
Ibrahim mengakui bahwa pengembangan pascasarjana masih membutuhkan proses pembelajaran dan penguatan kelembagaan. Karena itu, ia berharap silaturahmi tersebut dapat berlanjut menjadi kerja sama konkret yang mendukung peningkatan kualitas akademik dan pengembangan program studi.
“Barangkali berkenan untuk membina kami lebih intens,” tuturnya.