Gambar Revolusi Esok Pagi Hadir di UIN Alauddin, Bawa “Aku Fomo Maka Aku Ada”

Revolusi Esok Pagi Hadir di UIN Alauddin, Bawa “Aku Fomo Maka Aku Ada”

UIN Alauddin Online — Keresahan yang dikumpulkan melalui percakapan selama setahun diterjemahkan menjadi karya dan dipertemukan dalam satu ruang. Di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) UIN Alauddin Makassar, karya-karya dari berbagai latar hadir dalam art exhibition “Aku Fomo Maka Aku Ada”, yang berlangsung 23–27 September 2026.

Pameran tersebut merupakan bagian dari Revolusi Esok Pagi, sebuah kerja kolektif yang digagas komunitas kesenian Artifact Project dan telah berlangsung selama tujuh tahun. Tahun ini, UKM Seni Budaya Sultan Alauddin (eSA) menjadi tuan rumah sekaligus pelaksana kegiatan di lingkungan UIN Alauddin Makassar.

Ketua panitia, Raihan Shaleh, menjelaskan bahwa tema yang diangkat dalam Revolusi Esok Pagi tidak ditentukan secara tiba-tiba. Gagasan pameran lahir dari keresahan yang berkembang sepanjang tahun, kemudian dibicarakan melalui pertemuan dan diskusi sebelum diterjemahkan menjadi tema serta karya.

“Tema setiap tahun itu diambil dari keresahan satu tahun sebelumnya. Banyak mendapatkan teman dan kemudian berdiskusi tentang apa yang akan dibawakan tahun depan,” ujar Raihan.


Keterbukaan menjadi salah satu karakter kegiatan tersebut. Art exhibition ini menghadirkan seniman dan karya dari lintas generasi serta berbagai daerah. Karya yang ditampilkan tidak terbatas pada lingkungan UIN Alauddin, tetapi datang dari sejumlah wilayah, termasuk Medan, Banjarmasin, Yogyakarta, Palopo, Takalar, dan daerah lain di Sulawesi Selatan. Salah satu karya digital yang dipamerkan bahkan berasal dari Ukraina.

“Kita tidak menutup terkait UIN atau skala. Artinya terbuka untuk umum. Cuma kita sebagai eSA yang jadi tuan rumahnya,” jelas Raihan.

Keragaman karya tersebut berjalan beriringan dengan proses produksi yang melibatkan sejumlah pihak. Tim art handler menangani kebutuhan teknis pameran, mulai dari penataan karya, pencahayaan, partisi, hingga instalasi di ruang pamer. Raihan menyebut proses produksi instalasi berlangsung sekitar tiga hari dengan berbagai penyesuaian teknis di lapangan.

Sementara itu, aspek kurasi dan narasi pameran turut melibatkan Zam Kamil yang memiliki andil besar dalam menentukan arah konsep, data pameran, tulisan pendamping karya, hingga tata letak dan estetika ruang.


Rangkaian pembukaan pameran turut diisi pertunjukan seni dari UKM SB eSA berupa resital biola dan musikalisasi puisi. Pertunjukan tersebut menjadi pengantar sebelum Dr. M. Quraisy Mathar, S.Sos., M.Hum., dosen Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora sekaligus penggiat seni dan budaya di lingkungan UIN Alauddin Makassar, membuka kegiatan secara resmi.

Dalam sambutannya, Dr. Quraisy menyinggung perubahan cara manusia berinteraksi di tengah perkembangan teknologi. Menurutnya, ruang kehidupan manusia semakin bergerak menuju interaksi yang lebih banyak berlangsung secara daring.

Ia juga menekankan pentingnya literasi, termasuk kemampuan memahami dan membaca seni rupa. Seni, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan karya yang dilihat, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk membaca perubahan dan pengalaman manusia.

Menariknya, judul “Revolusi Esok Pagi” ia respons dengan refleksi yang sederhana. Di tengah kondisi cuaca yang sedang kering, Dr. Quraisy menyampaikan harapannya agar hujan turun.

“Jujur saya tidak menunggu revolusi esok pagi, yang saya tunggu hujan. Mudah-mudahan esok pagi hujan,” ujarnya.


Pameran “Aku Fomo Maka Aku Ada” berlangsung hingga 27 September 2026 di Gedung PKM UIN Alauddin Makassar. Kehadirannya mempertemukan seniman, karya, dan gagasan dari berbagai latar dalam satu ruang, sekaligus membuka kesempatan bagi publik untuk berinteraksi dengan praktik seni yang berkembang di luar batas lingkungan kampus.

Previous Post SPI UIN Alauddin Sosialisasikan Pengisian Modul Konflik Kepentingan bagi ASN
Next Post KKN 79 UIN Alauddin Gelar Skrining Hipertensi bagi Warga Bontomarannu Takalar