Hadapi Tantangan Era Digital, MAPIM Dorong Penerbitan Ilmiah Lebih Adaptif
UIN Alauddin Online — Perubahan kebiasaan membaca di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan menuntut penerbit ilmiah untuk memikirkan kembali cara menghasilkan, menyajikan, dan mendistribusikan buku. Namun, tantangannya bukan sekadar beralih dari buku cetak ke buku digital, melainkan memastikan karya akademik tetap dibutuhkan dan dapat dipahami masyarakat.
Persoalan tersebut mengemuka dalam diskusi antara Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, dengan delegasi Institut Terjemahan dan Buku Malaysia (ITBM) dan Majlis Penerbitan Ilmiah Malaysia (MAPIM) di Ruang Rapat Rektor Kampus II UIN Alauddin Makassar, Kamis (8/10/2026).
Hamdan sebelumnya menyoroti perubahan minat baca, perkembangan kecerdasan buatan, serta tantangan agar karya ilmiah dosen tidak berhenti sebagai bagian dari pemenuhan karier akademik, tetapi benar-benar dibaca dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.
Menanggapi persoalan tersebut, Pengerusi MAPIM, Prof. Madya Dr. Siti Rahmah Awang, menekankan pentingnya adaptasi dalam industri penerbitan ilmiah. Menurutnya, anggapan bahwa generasi muda tidak lagi tertarik pada buku fisik tidak sepenuhnya tepat, khususnya untuk buku ilmiah yang masih dibutuhkan sebagai bahan rujukan.
Ia mencontohkan Pameran Buku Internasional Kuala Lumpur yang digelar setiap tahun pada Mei. Dalam pelaksanaan tahun 2026, pameran tersebut menampilkan sekitar 16.000 judul buku. Siti Rahmah juga menyampaikan bahwa penjualan buku-buku terlaris dalam pameran tersebut melampaui 1.500 eksemplar.
Menurutnya, kondisi itu memperlihatkan bahwa pasar buku tetap tersedia. Buku agama, misalnya, masih menjadi salah satu kategori yang banyak dicari pembaca. Buku anak-anak dan motivasi juga diminati, disusul buku teks di bidang teknik, sains, dan matematika.
Meski demikian, perkembangan teknologi mendorong penerbit untuk memperluas pilihan format. Dari 31 organisasi yang tergabung dalam MAPIM, menurut Siti Rahmah, belum sampai sepuluh universitas yang secara khusus berfokus pada penerbitan buku digital atau e-book.
Ia menilai penerbit ilmiah perlu lebih adaptif tanpa serta-merta meninggalkan buku cetak. Keduanya dapat melengkapi kebutuhan pembaca, selama penerbit mampu memahami karakter pengguna dan cara masyarakat mengakses pengetahuan.
Selain format, cara menyajikan isi buku juga perlu diperhatikan. Buku akademik yang terlalu padat teks, minim ilustrasi, dan dipenuhi istilah teknis berisiko sulit dipahami oleh pembaca di luar bidang keilmuan terkait.
Siti Rahmah mendorong para akademisi agar menyampaikan gagasan dengan bahasa yang lebih komunikatif serta memanfaatkan ilustrasi, foto, dan unsur visual yang relevan. Dengan demikian, kedalaman pengetahuan tetap terjaga tanpa membuat buku terasa eksklusif bagi kalangan tertentu.
“Kita perlu berubah dalam menyampaikan ilmu kepada orang lain, terutama masyarakat umum,” tegasnya.
Salah satu upaya memperluas jangkauan pengetahuan yang dipaparkan Siti Rahmah ialah mengolah hasil penelitian menjadi buku yang lebih mudah dipahami publik. Ia mencontohkan Universiti Teknologi Malaysia (UTM), yang menghasilkan sekitar 840 tesis doktoral setiap tahun dari berbagai fakultas.
Pihak universitas mendorong agar tesis-tesis tersebut diolah menjadi buku sehingga penelitian yang selama ini berada di lingkungan akademik dapat diketahui dan dimanfaatkan masyarakat. Siti Rahmah menyebut sepuluh naskah telah diterima untuk diproses menjadi buku yang direncanakan terbit pada Desember 2026.

Bahasa sebagai Jembatan Penerbitan
Persoalan akses terhadap pengetahuan juga berkaitan dengan kemampuan karya menjangkau pembaca lintas negara. Dalam diskusi yang sama, Sakri Abdullah menyoroti peluang kerja sama penerjemahan antara Indonesia dan Malaysia, khususnya dengan memanfaatkan kedekatan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu.
Ia berpandangan bahwa kedua bahasa seharusnya menjadi jembatan kolaborasi, bukan semata-mata dipandang dari perbedaannya. Pertukaran dan penerjemahan karya dapat membuka peluang agar buku dan pemikiran dari satu negara lebih mudah diakses pembaca di negara lainnya.
Pandangan tersebut memperluas pembahasan mengenai masa depan penerbitan: adaptasi tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan format buku, tetapi juga strategi distribusi, bahasa, dan kemampuan menjangkau pembaca yang lebih beragam.
Bagi UIN Alauddin Makassar, gagasan yang disampaikan delegasi ITBM dan MAPIM membuka peluang untuk mengembangkan penerbitan ilmiah yang tidak hanya produktif menghasilkan karya, tetapi juga mampu memperluas peredaran pengetahuan.
Tantangan akhirnya bukan semata-mata bagaimana buku bertahan di tengah perubahan zaman, melainkan bagaimana ilmu yang terkandung di dalamnya tetap dapat diakses, dipahami, dan memberi manfaat bagi masyarakat.