FUF UIN Alauddin Gelar KINMU-NSW #6 Bahas Moderasi Beragama dan Radikalisme
UIN Alauddin Online — Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Alauddin Makassar memperkuat ruang dialog akademik melalui Kompetisi Ilmiah Nasional Mahasiswa Ushuluddin – National Student Webinars (KINMU-NSW) #6 dengan tema “Radikalisme dan Moderasi Beragama dalam Perspektif Ushuluddin”. Forum tersebut mempertemukan mahasiswa dari tujuh PTKIN untuk bertukar gagasan dan memperluas wawasan keislaman, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting dan dibuka Wakil Dekan III FUF UIN Alauddin Makassar, Syahrir Karim, M.Si., Ph.D. Ia mengapresiasi forum lintas PTKIN yang memberikan ruang kepada mahasiswa untuk membahas isu keagamaan melalui pendekatan akademik.
“KINMU-NSW menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk membangun tradisi akademik melalui diskusi dan pertukaran gagasan. Isu radikalisme dan moderasi beragama perlu dibaca secara ilmiah agar mahasiswa memiliki pemahaman yang utuh dan kontekstual,” ujarnya.
Syahrir menilai forum semacam ini dapat memperluas wawasan mahasiswa sekaligus memperkuat jejaring akademik antarkampus. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kemampuan membaca dinamika keberagamaan secara kritis dengan tetap berlandaskan kajian akademik.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Prof. Dr. Ris'an Rusli, M.Ag., selaku inisiator KINMU sekaligus penggagas National Webinar. Ia menjelaskan, KINMU diarahkan sebagai wadah kolaborasi mahasiswa dari berbagai PTKIN untuk membangun jejaring dan bertukar perspektif dalam kajian keislaman.
“KINMU kita bangun sebagai ruang untuk mempertemukan mahasiswa dari berbagai PTKIN agar dapat saling bertukar gagasan, pengalaman, dan perspektif dalam kajian keislaman,” katanya.
Menurut Prof. Ris'an, keterlibatan mahasiswa dalam KINMU tidak hanya diarahkan sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian aktif dalam membangun diskusi akademik. Jejaring yang terbentuk diharapkan dapat berkembang melalui berbagai kegiatan akademik berikutnya.
Sebagai keynote speaker, Dr. Dzikri Nirwana, M.Ag. dari UIN Antasari Banjarmasin turut memberikan perspektif dalam pembahasan tema radikalisme dan moderasi beragama. Ia menekankan pentingnya menempatkan isu tersebut dalam kajian yang proporsional dan berbasis keilmuan.
“Pembahasan mengenai radikalisme dan moderasi beragama perlu ditempatkan dalam kajian yang proporsional, sehingga mahasiswa mampu memahami persoalan tersebut secara kritis, tidak hanya berdasarkan pandangan yang bersifat umum,” jelasnya.
Forum kemudian menghadirkan mahasiswa dari tujuh PTKIN sebagai narasumber, yakni Silar Mayulita dari UIN Imam Bonjol Padang, Tiyas Dwi Rara Berliana dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Muhammad Alif Zibran dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Muhammad Khaerul Anam Ihyauddin dari UIN Alauddin Makassar, Baiq Fania Ulayya Afiatin dari UIN Mataram, Khoirunnisa dari UIN Raden Fatah Palembang, serta Siti Muthma'Inah dari UIN Antasari Banjarmasin. Diskusi dimoderatori Sukma Ayu, mahasiswa UIN Alauddin Makassar.
Keterlibatan mahasiswa sebagai narasumber memberikan ruang untuk menyampaikan pandangan sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi dan argumentasi akademik.
Tujuh PTKIN yang terlibat dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari Konsorsium KINMU. Kolaborasi ini menjadi ruang bagi mahasiswa dari berbagai daerah untuk saling bertukar pengalaman dan membangun komunikasi akademik lintas institusi.