FKIK UIN Alauddin Dorong Kolaborasi Lintas Profesi Kesehatan
UIN Alauddin Online — Pelayanan kesehatan tidak berjalan melalui satu profesi. Dokter, apoteker, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat hingga unsur pendukung di rumah sakit memiliki peran yang saling berkaitan. Karena itu, kemampuan berkomunikasi dan bekerja lintas profesi perlu dibangun sejak mahasiswa menempuh pendidikan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam kuliah umum Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Alauddin Makassar bertajuk “Bersinergi dalam Ilmu, Berkolaborasi dalam Kebaikan: Membangun Generasi Tenaga Kesehatan Profesional, Amanah, dan Berintegritas”, Senin (28/9/2026), di Lantai 4 Gedung Rektorat UIN Alauddin Makassar.
Guru Besar dan Dosen Farmasi Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. apt. Elly Wahyudin, DEA, yang hadir sebagai narasumber, menekankan pentingnya Interprofessional Collaboration in Education (IPCE) dalam membentuk tenaga kesehatan yang mampu bekerja sebagai satu tim.
“Berbicara tentang dunia kesehatan sekarang, tidak lagi kita berbicara secara parsial. Saya dokter, saya apoteker, saya perawat, saya bidan, saya tenaga kesmas, tidak bisa lagi memakai ‘saya’. Kami adalah tenaga kesehatan,” ujarnya.
Menurut Prof. Elly, kolaborasi lintas profesi tidak hanya berkaitan dengan pembagian tugas, tetapi juga komunikasi untuk memastikan pelayanan yang tepat bagi pasien. Dalam praktiknya, apoteker misalnya, dituntut aktif berkomunikasi dengan dokter dan perawat untuk memastikan ketepatan resep serta keamanan penggunaan obat sesuai kondisi pasien.

Ia menjelaskan, terdapat empat kompetensi utama yang perlu dibangun mahasiswa bidang kesehatan, yakni nilai dan etika, pemahaman terhadap peran dan tanggung jawab, komunikasi interprofesi, serta kemampuan bekerja dalam tim.
“Di sinilah pentingnya kita membangun komunikasi interprofesi dengan menyingkirkan ego sektoral. Kita semua mempunyai peran dan tanggung jawab masing-masing untuk kepentingan pasien,” katanya.
Prof. Elly juga mendorong FKIK UIN Alauddin untuk mulai mengintegrasikan pembelajaran lintas profesi ke dalam proses pendidikan. Salah satunya melalui kegiatan yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai program studi kesehatan dalam pembelajaran maupun penelitian.
Pesan serupa disampaikan Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhanis, M.A., Ph.D. Menurutnya, kolaborasi dibutuhkan bukan hanya di antara tenaga kesehatan, tetapi juga seluruh unsur yang terlibat dalam pelayanan rumah sakit.
“Di rumah sakit itu inter-professional education sangat dibutuhkan. Apakah dia cleaning service, security, tenaga kesehatan, paramedis, dokter, semuanya,” ungkapnya.
Dekan FKIK UIN Alauddin Makassar turut menegaskan pentingnya kerja sama antarpofesi dalam pelayanan pasien. Menurutnya, setiap profesi memiliki keterkaitan sehingga pelayanan di rumah sakit membutuhkan kemampuan untuk saling mendukung dan bekerja sama.
“Memang kita di rumah sakit itu saling membutuhkan satu sama lain dan harus bisa bekerja sama dengan baik,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Hamdan juga menyinggung pengembangan pendidikan kedokteran dan kesehatan UIN Alauddin melalui proyek PHLN dengan nilai sekitar Rp1 triliun. Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperkuat fasilitas dan pendidikan kesehatan di UIN Alauddin, termasuk dalam mendukung pengembangan rumah sakit pendidikan.
Kuliah umum yang dihadiri pimpinan FKIK, para Wakil Dekan, Ketua dan Sekretaris Program Studi, serta mahasiswa FKIK tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat bahwa kompetensi tenaga kesehatan tidak hanya dibangun melalui penguasaan ilmu masing-masing profesi. Kemampuan berkomunikasi, memahami peran profesi lain, dan bekerja dalam satu tim juga menjadi bagian dari kesiapan mereka menghadapi pelayanan kesehatan di lapangan.