Ini adalah nubuwat: terbit dari jenius terbesar tradisi ‘irfani, filsuf mistik Ibn ‘Arabi. Pandangannya perihal teks suci Alquran ibarat senandung dengan napas alegorisma yang kukuh. Membaca idenya, membawa kita ke makna teks yang paling purba. Di sana, kata-kata menjadi demikian bertenaga, nyaris magis.
Ibn ‘Arabi memang sosok teosof Muslim yang sangat istimewa, mampu setiap kali mengembalikan energi yang mengejutkan pada kata. Baginya, amsal dan metafora adalah sisi misteri bahasa, kata-kata yang diselimuti selubung, agar makna tak ditaklukkan cahaya langsung kebenaran. Di ruang sadar ini, Ibn ‘Arabi sejatinya berbicara perihal takwil.
Karena Alquran aktual yang diwahyukan adalah manifestasi cahaya, rahmat, dan petunjuk-Nya, Ibn ‘Arabi memperlihatkan penghormatan demikian tinggi pada teks suci ini. Bentuk linguistik teks, baginya, mesti didahulukan daripada semua bentuk "penyingkapan" makna dan "suara batin" Alquran.
Tak sedikit peneliti memosisikan Ibn ‘Arabi sebagai pengguna utama takwil, yang menjadikan teks suci Alquran sebagai "pintu" untuk menerobos "realitas" misterium-transendental Ilahiah. Ibn ‘Arabi sebab itu, mengembangkan interpretasi teks bedasarkan metode “penyingkapan-intuitif” (kasyf) guna mengurai kemacetan kognitif manusia. Di titik ini pula, Ibn ‘Arabi mengonstruk makna Alquran dari febrasi jantung teks: inner meaning of the text.
Ada dua jenis ilmu pengetahuan manusia dalam pendakuan Ibn ‘Arabi, merujuk napas Titah-Nya yang kudus: “Apa-apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu” (Qs. Al-Ma’idah/5:67), yakni melalui (1) “pemberian” (mawhûbah) dan (2) “perolehan” (muktasabah). Pertama, “pemberian” adalah jenis ilmu hasil takwa via penyucian spiritualitas dan eksperensial, sebagaimana firman Allah, “Bertakwalah kepada Allah, dan Allah akan mengajarimu” (Qs. Al-Baqarah/ 2:282); “Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan bagimu pembeda (furqân)” (Qs. Al-Anfal/8:29); “Yang Maha Pengasih mengajarkan Alquran” (Qs. Al-Rahman/ 55:1-2); “Yang mengajari manusia perihal ilmu yang belum diketahui” (Qs. Al-‘Alaq/96:5).
Kedua, jenis ilmu yang “diperoleh” yang tumbuh dari ikhtiar dan kerja keras, baik dengan menafsir teks maupun pengalaman empiris dan historis. Jenis ini yang diandaikan Ibn Sina sebagai al-'Ilm al-Hushuli.
Ibn ‘Arabi menolak takwil Alquran yang bersumbu pada jenis ilmu “perolehan” (al-'Ilm al-Hushuli) yang mengandaikan penalaran, pemikiran, refleksi, dan hasrat. Sebaliknya, Ibn ‘Arabi menerima takwil seseorang yang dibimbing oleh Allah melalui “pemberian” langsung pemahaman-mendalam, maksud yang terkandung dalam Kitab-Nya. Mereka adalah yang diberi oleh Allah ‘ilm al-hudhûrî, yang dalam Qs. Ali ‘Imran/3:7 disebut, “Orang-orang berakar kukuh dalam ilmu” (al-râsikhûna fî al-’ilm).
Itu sebab, dalam Futuhât al-Makkiyah Vol. 4:432, Ibn ‘Arabi mengandaikan takwil sejati adalah yang menautkan “teks-dunia kode-makna”. Dengan demikian, Ibn ‘Arabi tetap memelihara kesesuaian antara arti tekstual dan arti transendental-spiritual.
Takwil seperti ini senapas dengan pesan kudus Nabi Muhammad s.a.w., “Dalam setiap ayat Alquran ada makna lahir dan ada makna batin”. Tradisi takwil, sebab itu, mengandaikan terpeliharanya kesatuan organik antara syariat-hakikat, eksoterik-esoterik, imanen-transenden dan zahir-batin dari tarian makna yang menggelombang dahsyat, pada pendar cahaya teks suci Alquran.
Pancaran temaram peradaban Islam, di masa puncak kejayaannya antara Abad 9-12 M, adalah "buah ranum" dari serbuk silang tradisi pemikiran: syariat-hakikat, eksoterik-esoterik, dan al-'Ilm al-Hushuli- al-'Ilm al-Hudhuri