Akhir tahun selalu dirayakan dengan gegap gempita.
Di mana-mana orang membakar jagung dan ikan, meniup terompet, menyalakan petasan dan kembang api. Ada yang berkumpul bersama keluarga, ada yang nongkrong dengan sahabat dan tetangga, ada pula yang memilih merayakan dengan pasangan (baik yang sah maupun yang belum).
Namun sesungguhnya, apa yang sedang dirayakan?
Pergantian angka di kalender?
Atau sekadar euforia sesaat agar kita lupa pada kesepian? Atau sekedar ikut ikutan ?
Saya teringat suatu malam di malam tahun baru, beberapa tahun silam, ketika masih menjadi dokter residen di sebuah rumah sakit. Saat itu saya sedang tugas jaga. Di luar, langit malam penuh warna. Dan di dalam, ruang gawat darurat penuh darah.
Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun dibawa masuk dalam keadaan tidak sadar. Ia diantar oleh seorang pemuda. Begitu gadis itu dibaringkan di ranjang UGD, pemuda itu menghilang, tanpa sepatah kata.
Tubuh gadis itu pucat. Roknya basah oleh darah. Penuh darah. Tekanan darahnya menurun, nadinya cepat dan lemah. Ia sedang mengalami syok hipovolemik: tubuhnya kehabisan cairan darah....
Kami bekerja cepat. Infus dipasang. Pemeriksaan dilakukan. Saat pemeriksaan dalam, saya menemukan robekan hebat pada vaginanya. Sungguh dalam. Disitulah sumber perdarahan yang mengancam nyawanya.
Hasil laboratorium pun datang. Tabe dokter, kadar hemoglobin nya 2 mg/dl. Lapor perawat yg membersamaiku tugas jaga malam itu. Sungguh rendah.
Normalnya 12.
Adrenalin kami makin meningkat.
Tidak ada satu pun dari petugas medis yang bertanya tentang biaya. Tidak ada yang menunggu keluarga. Malam itu tim jaga seperti satu keluarga kecil. Ada yang mengurus darah ke PMI dengan uang pribadi. Ada yang menyiapkan obat. Ada yang menyiapkan operasi darurat. Di luar sana kembang api terus meledak. Di dalam sini, kami bertarung dengan maut....
Dua hari kemudian kondisinya mulai membaik. Ia mulai bisa bicara. Dengan suara pelan dan mata yang basah, ia bercerita:
“Dok… malam tahun baru saya janjian dengan pacar saya di rumah temannya. Saya diberi minuman. Setelah itu saya pusing… lalu tidak sadar. Tahu-tahu saya sudah di rumah sakit.”
Ia menangis. Bukan hanya karena rasa sakit, tetapi karena sadar bahwa sesuatu yang tak akan pernah kembali telah direnggut darinya. Dan nyawanya hampir ikut pergi.
Kami bertanya apakah ia hafal nomor orang tuanya. Kami pun menghubungi mereka. Tidak lama kemudian ayah dan ibunya datang. Mereka memeluk putri kecil mereka, yang baru kemarin mereka kira baik-baik saja.
Mereka tidak tahu anaknya punya pacar. Tidak tahu ia sedang rapuh. Tidak tahu ia sedang mencari perhatian, kasih sayang, dan tempat merasa berarti.
Bukan karena mereka tidak mencintai.
Tetapi karena mereka tidak hadir.
Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri. Orang tua dengan pekerjaannya. Anak dengan kesepiannya. Di celah itulah bencana masuk.
Rumah tangga bukan hanya tentang menikah, hamil, melahirkan, dan menyekolahkan anak. Ia adalah amanah. Dan setiap amanah ada LPJ nya di akhirat kelak.
Anak tidak hanya butuh biaya hidup. Ia butuh telinga yang mau mendengar, mata yang mau melihat, dan hati yang mau memeluk. Anak butuh waktu kita,
Butuh belaian. Butuh nasihat dan juga wibawa sebagai orang tua.
Malam itu mengajarkan saya satu hal , bahwa yang paling sering berdarah bukan hanya tubuh manusia, tetapi keluarga yang kehilangan keintiman. Miskin kasih sayang sejati. Miskin kebersamaan.
Ketika kembang api menyala di langit, ada anak-anak yang sedang gelap dalam sepi.
Mari kita kembali memantik kembang api dalam keluarga kita. Menciptakan kehangatan dalam pelukan keluarga.
Ada pesan dari langit...
Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
(QS. At-Tahrim: 6)
Alat AksesVisi