Sebagai pengampu matakuliah Studi Kritis Pemikiran Islam, saya mengapresiasi refleksi kritis yang disampaikan Prof. Rasyid Masri dan diulas secara apik oleh Prof. Hamdan dalam coretannya i hari ke 26 Ramadhan mengenai hubungan antara agama dan keterbelakangan. Dalam banyak kasus, memang benar bahwa "agama" (dalam tanda petik) atau lebih tepatnya pemahaman agama yang sempit dan dogmatis bisa menjadi penghambat kemajuan. Dalam perkuliahan Studi Kritis di S3, saya sering mengkritisi cara beragama yang tidak fungsional.
Meski demikian, tesis bahwa agama secara inheren menghambat kemajuan tidak dapat digeneralisasi.
Prof Hamdan memberikan contoh konkret seperti Jepang yang memiliki tingkat religiusitas dalam bentuk ajaran Shinto dan Buddha. Nilai agama meresap dalam budaya kerja mereka. Etos kerja keras, disiplin, dan tanggung jawab yang menjadi kunci kemajuan Jepang justru berakar dalam nilai-nilai spiritual mereka. Ini menunjukkan bahwa agama, jika dipahami dan diterapkan dengan benar, dapat menjadi pendorong kemajuan, bukan penghambatnya.
Sejarah lainnya juga membuktikan bahwa peradaban Islam pada masa keemasannya (abad ke-8 hingga ke-14) menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Kontribusi ilmuwan Muslim seperti Al-Khwarizmi dalam matematika, Ibn Sina dalam kedokteran, dan Al-Farabi dalam filsafat menunjukkan bahwa agama, ketika dipadukan dengan semangat pencarian ilmu, bisa menjadi fondasi kemajuan.
Saya kira tesis Karl Marx yang menyatakan bahwa agama adalah "candu masyarakat" merupakan refleksi pengalaman buruk masyarakat Barat pada masa lampau yang terikat dengan dogma agama (Kristen). Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa agama bukan hanya alat kontrol sosial, tetapi juga sumber inspirasi bagi perubahan dan peradaban.
Tesis bahwa manusia bisa tidak butuh agama itu bisa saja benar, tapi tidak ada manusia yang tidak bertuhan. Sebagai homo divinous manusia pasti mencari Tuhan. Jika suatu hari orang aties menyatakan dia tidak percaya Tuhan tapi di saat bersamaan dia mencari keadilan dan merindukan kedamaian, sesungguhnya dia sedang mencari dan merindukan Tuhan; Allah al-Adl atau al-Salam.
Agama menawarkan lebih dari sekadar aturan; ia memberikan harapan, etika, dan arah hidup. Ketika dipahami dengan benar, agama justru bisa menjadi motor penggerak kemajuan, bukan penghambatnya. Yang menjadi masalah bukanlah agama itu sendiri, melainkan bagaimana ia diajarkan dan dipahami oleh penganutnya. Coretan Prof. Hamdan di paragraf terakhir membuktikan bagaimana agama disalahpahami oleh penganutnya.
Sungguminasa 26 Ramadhan 1446 H
Barsihannor