Pernahkah kita menguji pandang batin sendiri sembari menghadirkan pertanyaan, apakah mataku sekadar melihat permukaan, atau menembus jaringan sebab-akibat yang tersembunyi?
Pernahkah kita bertanya: “Jika kabar itu menggoda, apa akalku memverifikasi, atau hanya melahapnya karena sesuai selera?”
Sudahkah kita memikirkan skenario terburuk agar dapat menempuh skenario terbaik, atau justru kita hanyut dalam optimisme tanpa perhitungan?
Dan di tengah laju warta, opini, algoritma yang menggiring rasa, apakah aku menjadi penganut kebenaran, atau sekadar penikmat pembenaran?
Elang di Langit, Basirah di Hati
Elang tidak tergesa. Ia mengambil ketinggian, menyablon peta dari udara, mengenali pola gerak, mengukur arah angin, lalu menukik hanya ketika saatnya tepat.
Ketajaman matanya bukan sekadar anugerah biologis, ia adalah disiplin perspektif, melihat luas agar paham rinci, menimbang rinci agar tepat mengambil keputusan.
Inilah metafora basirah, mata batin yang jernih, yang oleh Islam ditempa dengan taqwa, ilmu, dan adab.
Allah SWT. memerintahkan visi jauh ke depan, kemampuan antisipatif yang cermat:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk esok (hari).” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ketajaman elang itu juga adalah etika verifikasi, tidak menyambar setiap bayangan. Maka Al-Qur’an mengikat akal sehat kita dengan adab memeriksa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa berita, maka telitilah (kebenarannya).” (QS. Al-Ḥujurāt: 6)
Dan lebih jauh, Islam melarang langkah yang tak bertanggung jawab, yang lahir dari prasangka tanpa data:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Janganlah engkau mengikuti apa yang tidak engkau punya ilmu tentangnya.” (QS. Al-Isrā’: 36)
Elang memadukan jarak dan kedekatan, tinggi untuk memetakan, tajam untuk memutuskan.
Demikian pula insan beriman: tinggi ilmunya, tajam nuraninya. Allah bertanya retoris:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: apakah sama orang-orang yang tahu dengan yang tidak tahu? Hanya Ulul Albab (pemilik akal jernih) yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)
Basirah melahirkan manajemen risiko. Nabi Ya‘qub AS. mengajarkan ikhtiar strategis kepada putra-putranya:
يَا بَنِيَّ لَا تَدْخُلُوا مِنْ بَابٍ وَاحِدٍ وَادْخُلُوا مِنْ أَبْوَابٍ مُتَفَرِّقَةٍ
“Wahai anak-anakku, jangan kalian masuk dari satu pintu, masuklah dari pintu-pintu yang berbeda.” (QS. Yūsuf: 67)
Ini adalah etos diversifikasi risiko, mencegah satu titik gagal melumpuhkan seluruh ikhtiar.
Rasulullah SAW. merumuskan ketajaman praktis dalam sabda singkat namun strategis:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
“Ikatlah (untamu), lalu bertawakkallah.” (HR. Tirmiżī)
Ikhtiar sistematis lebih dulu, tawakkal sesudahnya. Dan ketajaman itu juga berwujud pembelajaran dari luka:
«لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ»
“Seorang mukmin tidak (boleh) tersengat dari lubang yang sama dua kali.” (Muttafaq ‘Alaih)
Untuk menolak manipulasi, Islam menegaskan disiplin radd al-khabar (disiplin merujuk pada otoritas dan ahlinya):
وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ
“Seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, niscaya orang-orang yang mampu menarik kesimpulan (istimbath) akan mengetahuinya.” (QS. An-Nisā’: 83)
Ilmu bukan hanya hak, ia adalah jalan menuju Allah:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim)
Sementara Umar ibn al-Khattab RA. menajamkan lensa muhasabah:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab.”
Dan Ali ibn Abi Thālib ra. memberi kompas kebenaran:
اعْرِفِ الْحَقَّ تَعْرِفْ أَهْلَهُ
“Kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenal siapa ahlinya.”
Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah menanam adab perbedaan yang mencegah kita menjadi alat dari opini:
رأيي صوابٌ يحتمل الخطأ، ورأي غيري خطأٌ يحتمل الصواب
“Pendapatku benar tetapi mungkin salah; pendapat orang lain salah tetapi mungkin benar.”
Dan Al-Ghazali menggambarkan mesin tajam itu dengan singkat:
التَّفَكُّرُ مِفْتَاحُ الْأَنْوَارِ، وَمَبْدَأُ الِاسْتِبْصَارِ»
“Tafakkur adalah kunci cahaya, permulaan dari kejernihan pandang.”
Ketajaman “mata elang” dalam Islam adalah basirah yang lahir dari takwa, ilmu, muhasabah, dan adab.
Ia bukan sinisme yang curiga pada semua hal, tapi kesiagaan penuh kasih, yang mencegah kerusakan sebelum ia menjadi bencana.
Penyebab tumpulnya penglihatan batin kita sering sama, ego yang menghendaki kemenangan cepat, budaya viral yang menghadiahi sensasi, sistem yang memanjakan loyalitas tanpa mutu, dan pendidikan yang mengukur capaian dengan angka, bukan dengan akal jernih dan budi pekerti.
Dari penyebab itu lahir tanda-tanda: mudah termakan kabar yang kita sukai, alergi pada data yang berlawanan, gemar menyimpulkan sebelum memahami, berani berkomentar, enggan bertanggung jawab, vokal di permukaan, hening di ruang kajian.
Obatnya bukan satu, melainkan ekosistem adab.
Pertama, tabayyun sebagai kebiasaan sosial, semua kabar diuji, semua data ditimbang, semua keputusan disandarkan pada ahli yang berintegritas (QS. 49:6; QS. 4:83).
Kedua, ilmu sebagai jalan hidup, bukan aksesoris status, membangun budaya baca, diskusi lintas disiplin, dan shura (musyawarah) yang sejati, bukan formalitas:
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
“Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Āli ‘Imrān: 159)
Ketiga, manajemen risiko yang bernapas syariat: merencanakan skenario, menyiapkan cadangan, mengikat unta lalu bertawakal (HR. Tirmiżī), dan menahan diri dari mudarat:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh menimbulkan bahaya dan tidak boleh membalas bahaya dengan bahaya.” (Ḥadīts hasan)
Keempat, orientasi komunal: kita dididik untuk mendahulukan maslahat bersama, bukan sekadar prestise pribadi.
Al-Qur’an mengikat kita dalam simpul kebajikan kolektif:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
“Tolong-menolonglah dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Mā’idah: 2)
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا
“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah.” (QS. Āli ‘Imrān: 103)
Kelima, etika fokus:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Termasuk baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmiżī)
Dengan ekosistem ini, kita melahirkan warga yang tidak mudah diperdaya, tidak gampang dijadikan alat, mampu mendeteksi gerak yang membahayakan sejak dini, dan berhati-hati ketika melakukan terobosan, bukan karena takut, tetapi karena bertanggung jawab.
Kritik Realistis atas Realitas Anak Bangsa
Kerap kita mengagungkan “kebebasan berpendapat” tetapi melupakan “kebajikan bernalar”.
Kita bangga pada “kecepatan bereaksi” namun melupakan “kedalaman menyimak”.
Kepentingan personal sering melompati kepentingan komunal; proyek citra menelikung proyek peradaban.
Pada titik ini, mata elang menuntut kebijakan: merawat perbedaan tanpa memecah belah, menolak pembodohan tanpa merendahkan, berdiri di pihak kebenaran meski sunyi.
Di sinilah iman bersalaman dengan ilmu, ketegasan berangkulan dengan kasih, dan strategi jauh berpaut dengan kehadiran di sini-kini.
Rangka Operasional, Agar Tajam Itu Menjadi Nyata
Bagaimana mengubah puitika ini menjadi praktik?
Jadwalkan muraqabah (kesadaran kehadiran Allah) dan muhasabah harian ala Umar.
Bangun komunitas tabayyun yang memverifikasi kabar dan data.
Latih scenario planning, apa jika gagal, apa jika berhasil, apa mitigasinya.
Bangun majlis ilmu lintas disiplin, agama, sains, ekonomi, kebudayaan, agar pandangan kita luas sekaligus dalam.
Terapkan shura untuk keputusan publik, dan amanah profesional untuk eksekusi.
Jadikan adab perbedaan ala Imam Syafi‘i sebagai SOP dialog. Dan di atas semua itu, didik diri untuk istiqamah tidak tersengat lubang yang sama dua kali.
Akhirnya, ketajaman elang bukan untuk memangsa, tetapi untuk menjaga. Bukan untuk berbangga, melainkan untuk berkhidmat.
Ketika basirah telah menyatu dengan akhlak, kita bukan lagi korban arus zaman, kita menjadi pembawa obor yang menunjukkan arah.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا بَصِيرَةً تَنْفُذُ إِلَى الْحَقَائِقِ، وَعَقْلًا يَزِنُ الْأُمُورَ بِالْقِسْطِ، وَقَلْبًا يَهْتَدِي بِنُورِكَ فِي ظُلُمَاتِ الْفِتَنِ.
اللَّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَحِلْمًا وَحِكْمَةً.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا شُهَدَاءَ لِلْحَقِّ، أُمَنَاءَ عَلَى الْعِلْمِ، لَا نُخْدَعُ وَلَا نَخْدَعُ، وَلَا نَكُونُ أَدَوَاتٍ لِأَهْوَاءِ النَّاسِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِلتَّبَيُّنِ وَالتَّثَبُّتِ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَأَهْلَنَا مِنْ كُلِّ فِتْنَةٍ وَضَرَرٍ، وَاجْمَعْنَا عَلَى الْخَيْرِ وَالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ.
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami basirah yang menembus hakikat, akal yang menimbang urusan dengan adil, dan hati yang mendapat petunjuk cahaya-Mu di kegelapan fitnah. Ya Allah, ajarkan kami apa yang bermanfaat, manfaatkan kami dengan apa yang Engkau ajarkan, dan tambahkan kepada kami ilmu, kelapangan jiwa, dan hikmah. Ya Allah, jadikan kami saksi-saksi bagi kebenaran dan penjaga amanah ilmu; tidak mudah diperdaya dan tidak memperdaya; tidak menjadi alat bagi hawa nafsu manusia. Ya Allah, bimbing kami dalam tabayyun dan keteguhan, lindungi negeri dan keluarga kami dari segala fitnah dan mudarat, serta satukan kami dalam kebaikan, keadilan, dan ihsan.”
#Wallahu A’lam Bis-Sawab