Gambar PROF. DR. HAMKA SEORANG ULAMA SAFAWIYAH


Beliau dikenal dengan panggilan Buya Hamka. 
Beliau kelahiran Minang 17 Februari 1902 di Sungai Batang dan meninggal 24 Juli 1981 di Jakarta.
Beliau seorang yang dihormati di seantero dunia.
Beliau seorang ulama safawiyah atau ulama penulis.

Sejak remaja beliu menulis. Beliu pertama kali menulis umur 25 tahun berjudul, Khatib Umam. Hasil penelitian saya ditemukan bahwa Beliau mewariskan 119 buku.
Selain tulisan lepasnya di berbagai koran dan majalah.
Saya termasuk bersyukur karena bisa mengumpulkan hampir semua tulisannya.
Itulah jadi modal saat meneliti beliau waktu di S2. 
Saya meneliti dibawa bimbingan Prof. Dr Nurcholish Madjid.
Sayang penelitian itu batal karena termasuk mahasiswa lolos tanpa tesis.

Tapi saya tetap melanjutkan penelitian itu dalam bentuk buku berjudul, "Pemikiran politik Buya Hamka."
Di antara buku Hamka yang saya gemari baca adalah Hikmah. Dalam buku itu Hamka mohon agar menghindari, berbohongan sekecil apa pun. Menurutnya, sekali berbohong hanya bisa dipertahangkan dengan  kebohongan lain. Itulah yang dimaksud Beliau kebohongan murakkab atau kebohongan berganda.

Ternyata kita dirundung malang menyaksikan fenomena sosial sekarang bahwa ada yang memelihara sifat kebohongan. Lebih memprihatinkan lagi karena yang memelihara sifat kebohongan itu adalah mantan pimpinan tertinggi di negeri ini. Maka berubalah keramahan negeri ini yang dipuja sepanjang masa. Menjadi negeri gelap yang penuh benci dan caci maki. Buya Hamka berpesan jangan biarkan kebohongan berlangsung lama. Sebab semakin lama kebohongan itu dipertahankan ibarat bola salju semakin menggelinding semakin membesar. Ijazah palsu kenapa tak segera diselesaikan? Walau disadari, semakin lama semakin banyak masalahnya. Manusia pun semakin pintar dan kritis. Awalnya hanya terbatas pada ijazah palsu. Semakin hari bertumpuk pada masalah lain, misalnya pada font yang digunakan. Sekarang pada tanda tangan dan pengesahan. Makin banyak lagi korbannya. Sekarang dikenal dua orang: Gus Nur dan penulis buku itu, Jokawi under Cover yang dipenjara di rumah tahanan. Bersamaan semakin banyak aparat terlibat. Pada hal pernah saya tulis, masalah ijazah palsu masalah paling sederhana. Tunjukkan saja ijazah aslinya dengan transfaran. Dengan sendirinya, para penuntut akan bumkam seribu bahasa. Jangan-jangan memang ada yang sengaja disembunyikan. Saya baru saja ketemu seorang dosen bekend UGM. Katanya, "masalahnya saat Jokowi mendaftar sebagai calon presiden, lain ijazah yang dipakai. Tidak diketahui, apakah ijazah aslinya hilang? Di situ letak masalahnya. Jokowi bagai makan buah semalakama. Terus terang dimakan bermasalah dan disembunyikan bermasalah juga, seperti saat ini, kata warga UGM itu mengakhiri wawancaranya via telepon.

Wasalam,
Kompleks GFM, 2 Aprli 2025