Gambar Penentu Kesuksesan

Kualitas ketakwaan seseorang akan teruji ketika sedang sepi dan sendirian.

Apakah dalam kesendirian dia merasa tidak ada yang melihat dan mengawasi. Bahkan dalam kesendirian secara pisik adakah kesadaran yang menyertai bahwa tidak ada satu ucapan dan perbuatan bahkan terbetik dalam hati yang luput dalam catatan para malaikat.

Sementara kualitas iman akan teruji ketika sedang cemas atau berharap. Apakah kepasrahan akan bergantung kepada sesuatu selain dari yang Maha Penolong dan Maha Melindungi. Sedang kualitas kesabaran akan teruji ketika sedang sakit atau kehilangan.

Mampukah kita untuk menerima atau menggerutu sembari memandang Tuhan tidak lagi Mengasihi.

Ketakwaan tidak terletak pada bagian luar melainkan di dalam dada, karena itu hakikat agama tidak terletak pada aspek seremonial. Karenanya keragaman ibadah sejatinya menjadi sarana untuk mengasah kepribadian. Manusia yang paling mulia adalah mereka yang paling takwa, bukan terletak pada sisi luar dari diri seseorang. Sehingga sorban, tasbih, sajadah, atau pun kopiah bukan jaminan ketakwaan.

Keindahan bukan terletak pada pakaian yang menghiasi tubuh, melainkan pada keluhuran akhlak dan budi pekerti. Keluhuran akhlak terletak pada ucapan dan sikap yang memantul dari

suasana hati dan jiwa manusia. Akhlak tidak diukur dari standar pisik misalnya pendidikan tinggi, jabatan bergengsi, rumah dan kendaraan mewah, busana atau pakaian bermerek dan semacamnya.


Sederet kisah sukses dari mereka yang memiliki keuletan dan kegairahan pada ilmu pengetahuan dan kemajuan, mereka yang dalam perjalanan hidupnya memegang prinsip tiada hari tanpa aktivitas produktif dan sangat disiplin memanfaatkan waktu. Mereka adalah pemilik masa depan karena

kecintaannya pada kemajuan yang tidak mengenal kata berhenti sebelum berhasil.


Keterbatasan dalam hidup bukan penghalang untuk meraih kesuksesan, tengok saja tidak sedikit dari mereka yang meraih kesuksesan tidak berasal dari keturunan hartawan. Malah boleh jadi sejak kecil hidup dalam kondisi serba kekurangan, tapi memiliki semangat juang dan tak kenal putus

asa sehingga dunia berada dalam genggamannya karena keberhasilan yang diperoleh berkat usaha dan

kerja keras yang dilakukannya.

Perjalanan meniti hidup memang tidak selalu mudah. Dalam perjalanan sering kali kita dihadang oleh beragam keinginan. Terkadang keinginan yang didambakan sering kali menyandera

kita hanya bersifat kenikmatan sementara.

Ketika keinginan itu belum tercapai setelah beragam upaya telah dilakukan, maka sikap yang paling bijak adalah bersabar. Boleh jadi hal itulah yang terbaik bagi kita, karena rumus Tuhan tidak mampu kita paham dengan baik.

Jika pada kenyataannya kita dijadikan Tuhan seperti saat ini, yakinkan diri bahwa inilah yang tepat menurut-Nya. Jalani peran hidup sebaik mungkin, lakukan yang menjadi tugas dan amanah dengan istikamah tanpa harus kehilangan rasa syukur. Belajar mensyukuri yang ada adalah bagian

terpenting dalam perjalanan hidup yang dapat menentukan kebahagiaan seseorang. Ke syukuran tidak hanya hadir ketika kita memperoleh kelebihan, ketika kekurangan dan keterbatasan pun patut untuk

disyukuri.

Tidak ada sesuatu pun yang diciptakan Tuhan sia-sia. Namun, sering kali kita lalai mensyukurinya. Segala sesuatu yang terjadi selalu kita harapkan terjadi seperti apa yang kita kehendaki, padahal sangat boleh jadi hal itu akan merugikan diri kita.

Demikian pula sebaliknya apa yang tidak kita kehendaki boleh jadi justru membawa kebaikan bagi diri kita. Karena pesan Tuhan demikian tegas: “Sekiranya engkau bersyukur, maka nikmat itu akan Aku tambah. Dan jika engkau ingkar, maka azab-Ku sangat pedih”.