Hari ini bukan sekadar angka yang tertulis di kalender. Ia adalah satu halaman kehidupan yang kembali terbuka. Matahari terbit, waktu berjalan, dan manusia diberi kesempatan untuk memperbaiki sesuatu yang kemarin mungkin belum selesai.
Kamis berada di antara kesibukan awal pekan dan suasana penghujung pekan. Ia mengajarkan kepada kita bahwa perjalanan hidup tidak pernah berhenti. Setiap hari membawa pesan: gunakan waktu sebaik-baiknya, sebab waktu yang telah berlalu tidak pernah kembali.
Bagi seorang Muslim, Kamis juga dapat menjadi momentum mempersiapkan hati menyambut Jumat. Memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta menyelesaikan urusan yang masih tertunda.
Sebab hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang telah kita kumpulkan, tetapi juga tentang berapa banyak kebaikan yang telah kita tinggalkan. Salah satu ayat yang sangat indah untuk direnungkan menjelang Jumat adalah QS. Al-Jumu’ah ayat 9:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia memang penting, tetapi jangan sampai kesibukan dunia membuat manusia melupakan Allah.
Kamis, karena berada tepat sebelum Jumat, dapat kita jadikan hari persiapan batin. Persiapan bukan hanya pakaian untuk Jumat, tetapi juga membersihkan hati, memohon ampun, memperbanyak zikir dan memperbaiki hubungan dengan keluarga serta sesama.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa ketika panggilan Allah datang, manusia harus mampu meninggalkan sejenak urusan dunia untuk memenuhi panggilan-Nya. Itulah keseimbangan hidup: bekerja untuk dunia, tetapi jangan kehilangan arah menuju akhirat.
Tanggal 22 Oktober juga menyimpan sejumlah peristiwa penting dalam perjalanan sejarah dunia.
Pada 22 Oktober 1879, Thomas Edison berhasil menguji lampu pijar dengan filamen karbon yang mampu menyala lebih dari 13 jam. Peristiwa ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan penerangan listrik.
Pada 22 Oktober 1884, Konferensi Meridian Internasional di Washington menetapkan Greenwich sebagai meridian utama, yang kemudian menjadi dasar penting bagi sistem garis bujur dan penentuan waktu dunia.
Catatan sejarah tersebut memberi pelajaran sederhana: satu tanggal dapat menyimpan begitu banyak cerita. Ada keberanian, ada penemuan, ada kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi ada pula ketegangan dan konflik.
Karena itu, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Sejarah adalah cermin agar manusia hari ini tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Jika kemarin ada kesalahan, perbaikilah.
Jika ada orang yang tersakiti oleh ucapan kita, mintalah maaf.
Jika ada pekerjaan yang belum selesai, selesaikan dengan penuh tanggung jawab.
Dan jika hati mulai jauh dari Allah, kembalilah.
Sebuah Pantun Pembuka untuk Anda:
Pergi pagi membawa bekal,
Singgah sebentar membeli jamu.
Hari berganti, waktu berjalan,
Jangan lupa mengingat Tuhan selalu
Berikutnya tentang Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober bukan sekadar catatan dalam kalender nasional. Ia adalah penghormatan terhadap jejak perjuangan para santri dan ulama dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semangat Resolusi Jihad yang dikumandangkan para ulama menjadi salah satu bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa. Dari pesantren, lahir generasi yang tidak hanya tekun membaca kitab, tetapi juga memiliki keberanian, keikhlasan, dan kecintaan kepada tanah air.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, makna santri pun semakin luas. Santri hari ini tidak hanya berada di ruang-ruang pesantren, tetapi hadir di tengah masyarakat sebagai pendidik, cendekiawan, pengusaha, birokrat, pekerja sosial, bahkan pemimpin bangsa.
Nilai kesederhanaan, disiplin, gotong royong, dan penghormatan kepada sesama menjadi bekal penting menghadapi tantangan zaman. Karena itu, Hari Santri 2026 hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, menjaga toleransi, serta menebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Santri adalah wajah masa depan Indonesia—generasi yang diharapkan mampu memadukan kecerdasan dengan akhlak, kemajuan dengan ketakwaan, serta keberanian dengan kebijaksanaan.
Dari pesantren untuk negeri, dari doa untuk kehidupan, dan dari ilmu untuk kemaslahatan. Selamat Hari Santri 2026. Santri bukan hanya pewaris tradisi, tetapi juga penggerak perubahan dan penjaga masa depan Indonesia.
Sementara itu, Kekerasan Rumah Tangga Viral di Tamangapa, Polisi Turun Tangan;
Sebuah video pertengkaran pasangan suami istri di Jalan Tamangapa Raya, Kecamatan Manggala, Kota Makassar, menjadi perhatian publik setelah beredar luas di media sosial.
Dalam rekaman tersebut terlihat pertengkaran yang berujung pada tindakan kekerasan. Peristiwa itu terjadi di depan Koperasi Berkat pada Jumat, 16 Oktober 2026 sekitar pukul 10.00 WITA. Warga yang berada di sekitar lokasi sempat berusaha melerai pertikaian tersebut.
Polsek Manggala kemudian turun melakukan klarifikasi dengan mendatangi lokasi dan meminta keterangan sejumlah saksi maupun pasangan yang terlibat. Dari hasil penelusuran, keduanya diketahui merupakan pasangan suami istri.
Pertengkaran disebut bermula dari persoalan rumah tangga ketika sang suami hendak mengantar istrinya ke tempat kerja. Adu mulut kemudian berlanjut di jalan hingga terjadi tindakan kekerasan yang terekam kamera dan akhirnya viral.
Yang menarik sekaligus menjadi pelajaran, kedua pihak disebut telah berdamai, dan pihak perempuan tidak berkeinginan membuat laporan polisi. Namun, polisi tetap melakukan klarifikasi untuk memastikan fakta kejadian.
Kasus ini mengingatkan kita bahwa persoalan rumah tangga semestinya diselesaikan dengan kepala dingin, komunikasi dan jalan kekeluargaan bukan dengan kekerasan. Sebab, ketika emosi mengambil alih, persoalan pribadi dapat berubah menjadi tontonan publik dan meninggalkan luka yang jauh lebih panjang daripada pertengkarannya sendiri.
Rumah adalah tempat pulang, bukan arena pertarungan. Jika masalah datang, bicarakan dengan tenang. Jika emosi memuncak, berhentilah sejenak. Dan jika persoalan sulit diselesaikan berdua, jangan malu mencari bantuan pihak keluarga, tokoh masyarakat, pendamping, atau lembaga yang berwenang.
Disisi lain, kabar dari Sulawesi Selatan kembali mengingatkan kita bahwa di balik janji pekerjaan dengan gaji tinggi, bisa saja tersembunyi kejahatan yang mengancam masa depan manusia.
Polda Sulsel mengungkap dua kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan menyelamatkan delapan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang diduga akan diberangkatkan secara nonprosedural menuju Malaysia.
Pengungkapan dilakukan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada 8 dan 19 Oktober 2026. Dalam perkara tersebut, polisi mengamankan tiga orang yang diduga sebagai pelaku/perekrut.
Modus yang terungkap cukup mengkhawatirkan. Para korban ditawari pekerjaan di Sarawak, Malaysia, dengan iming-iming gaji tinggi. Mereka diarahkan melalui jalur Makassar–Pontianak sebelum menuju Malaysia, tanpa proses penempatan pekerja migran yang semestinya.
Di sinilah masyarakat perlu memahami bahwa tawaran kerja yang tampak menggiurkan belum tentu merupakan jalan menuju kesejahteraan. TPPO bukan sekadar persoalan pelanggaran administrasi.
Di baliknya ada manusia, ada keluarga, ada harapan dan masa depan. Seseorang yang berangkat mencari nafkah dapat berubah menjadi korban eksploitasi ketika proses perekrutan dilakukan secara ilegal.
Karena itu, kewaspadaan masyarakat menjadi benteng pertama. Jangan mudah percaya pada tawaran kerja luar negeri dengan gaji besar apabila perusahaan, alamat pekerjaan, kontrak, dokumen, dan prosedur keberangkatannya tidak jelas.
Pastikan proses melalui jalur resmi dan jangan menyerahkan dokumen penting kepada pihak yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pengungkapan Polda Sulsel ini sekaligus menjadi pesan bahwa pemberantasan TPPO membutuhkan kerja bersama—kepolisian, pemerintah, BP3MI, masyarakat, keluarga dan lingkungan sosial. Sebab, satu korban TPPO saja sudah terlalu banyak.
Semoga delapan warga yang berhasil diselamatkan dapat kembali berkumpul dengan keluarga dan melanjutkan kehidupan dengan lebih baik. Jangan biarkan impian mencari kehidupan yang lebih baik berubah menjadi mimpi buruk di negeri orang.
Berangkat membawa harapan,
Pulang jangan tinggal kenangan.
Kerja di negeri mencari kehidupan,
Jangan sampai terjebak perdagangan.
Menggapai Impian ke Tanah Suci; Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan mewarnai kegiatan pengajian bulanan yang dilaksanakan Pengurus Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) berkolaborasi dengan Kelompok Pengajian Matano Utara, Baruga Antang.
Kegiatan tersebut berlangsung di kediaman H. Miswar dan Ibu Mutmainnah, yang menjadi tempat berkumpulnya para anggota LLI dan jamaah untuk mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan pemahaman keagamaan.
Kegiatan rutin bulanan ini bukan sekadar forum pengajian, tetapi telah berkembang menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, berbagi pengalaman, dan menumbuhkan semangat kebersamaan di kalangan para anggota.
Gagasan dan upaya untuk terus menghidupkan kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Pak Wawan, salah seorang anggota komunitas alumni SMA Negeri 5 Makassar, yang turut mengambil bagian dalam membangun kebersamaan melalui kegiatan keagamaan.
Yang menarik, setiap peserta yang hadir mendapatkan kupon undian yang diisi dengan nama dan nomor WhatsApp. Kupon-kupon tersebut kemudian akan dikumpulkan dan diundi menjelang 1 Ramadan.
Hadiahnya bukan sekadar bingkisan biasa, melainkan tiket umrah gratis yang disiapkan oleh penanggung jawab kegiatan pengajian, yang juga merupakan pemilik JILLS Kota Makassar.
Program ini menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menghadirkan pesan yang lebih dalam: bahwa majelis ilmu dapat menjadi tempat bertemunya silaturahmi, ibadah, kepedulian, dan keberkahan.
Bagi para jamaah, kesempatan mendapatkan tiket umrah tentu merupakan sebuah impian besar sebuah perjalanan menuju Tanah Suci yang diharapkan dapat menjadi hadiah terindah sekaligus panggilan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Semoga kegiatan pengajian bulanan ini terus berlangsung secara istiqamah, semakin banyak jamaah yang terlibat, dan semangat berbagi kebaikan terus tumbuh.
Sebab, ketika silaturahmi dirawat, ilmu dibagikan, dan sedekah ditebarkan, selalu ada jalan bagi datangnya keberkahan dari arah yang tidak disangka-sangka.
Pengajian bukan hanya tentang duduk bersama mendengarkan tausiah, tetapi tentang bagaimana setelah pulang, hati menjadi lebih lembut, persaudaraan semakin erat, dan langkah kehidupan semakin dekat kepada Allah SWT.
Pembaca setia Mozaik Kehidupan (MoKa) yang kami hormati, Sampai di sini perjumpaan kita pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kami menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan hadirnya MoKa hari ini.
Semoga para pembaca dapat memaklumi, bahwa di balik setiap tulisan ada kesibukan, dinamika, dan tanggung jawab yang harus diselesaikan.
Sesungguhnya kami telah berusaha untuk hadir tepat waktu. Namun, kesibukan di ruang redaksi, bersamaan dengan berbagai aktivitas penulis, membuat MoKa kali ini harus sedikit terlambat menyapa Anda. Mohon maaf atas kekurangan tersebut.
Namun, keterlambatan bukan berarti berhenti. Kita akan terus berjalan, terus menulis, terus berbagi cerita, dan terus bergandengan tangan menuju hari esok yang lebih indah. Sebab kehidupan selalu menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau berharap dan berusaha.
Percayalah pada harapan, bukan pada ketakutan.
Sebab harapan membuat langkah tetap tegak, sementara ketakutan hanya akan membuat kita ragu untuk melangkah.
Terima kasih telah setia menjadi bagian dari perjalanan Mozaik Kehidupan.
Sampai jumpa pada edisi berikutnya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.