Hari berganti, waktu berjalan. Tanpa terasa kita telah sampai pada Rabu, 7 Oktober 2026. Setiap tanggal sesungguhnya bukan sekadar angka di kalender. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup yang tidak akan pernah kembali.
Rabu mengajarkan kita tentang keseimbangan. Di tengah kesibukan, ada saatnya kita berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk mengambil pelajaran, kemudian memandang ke depan dengan harapan.
Ada hari ketika hidup terasa ringan. Ada pula saat ketika langkah terasa berat. Namun manusia tidak boleh berhenti hanya karena menghadapi kesulitan. Allah SWT memberikan penguatan yang sangat indah dalam QS. Asy-Syarh ayat 5–6:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Ayat ini bukan sekadar kalimat penghibur. Ia mengajarkan bahwa kesulitan tidak berdiri sendirian. Di dalam perjalanan yang berat sekalipun, Allah menghadirkan ruang bagi pertolongan, kesabaran, kekuatan, dan jalan keluar.
Karena itu, 7 Oktober 2026 dapat kita maknai sebagai momentum untuk memperbaharui semangat: Jangan menyerah karena hari ini sulit, Jangan berputus asa karena jalan belum terbuka, Teruslah berikhtiar, berdoa dan bersabar.
Sebab setelah ayat tentang kesulitan dan kemudahan itu, Allah melanjutkan dengan perintah untuk terus berusaha dan mengarahkan harapan hanya kepada-Nya.
Dan pada 7 Oktober 2001, serangan udara pimpinan Amerika Serikat ke Afghanistan dimulai, menandai awal perang Afghanistan yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Sejarah itu mengingatkan kita bahwa satu tanggal dapat menyimpan begitu banyak cerita: kemenangan, perubahan politik, kemajuan ilmu pengetahuan, bahkan konflik kemanusiaan. Maka, 7 Oktober 2026 jangan hanya kita lihat sebagai hari Rabu biasa. Ia adalah halaman baru dalam buku kehidupan kita.
Semoga Rabu, 7 Oktober 2026, menjadi hari yang membawa ketenangan hati, kesehatan, keberkahan rezeki, kelapangan dalam menghadapi persoalan, serta kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama.
Sebuah Pantun Pembuka:
Ke Tanjung Bayang melihat perahu,
Air berkilau diterpa cahaya.
Tujuh Oktober menjadi waktu,
Mari berbuat baik sepanjang usia.

Kemenangan Tim Garuda bukan sekadar catatan angka di papan skor, tetapi sebuah kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan jutaan rakyat Indonesia.
Perjuangan para pemain di lapangan, semangat pantang menyerah, dan keberanian menghadapi setiap tekanan menjadi gambaran bahwa kemenangan selalu lahir dari kerja keras dan keyakinan.
Ketika Merah Putih berkibar dan lagu kebangsaan berkumandang, ada rasa haru dan bangga yang menyatukan kita dalam satu nama: Indonesia.
Kini, kemenangan itu menjadi kenangan indah yang layak disimpan dalam lembar sejarah sepak bola Tanah Air. Tim Garuda telah mengajarkan bahwa jatuh bukan alasan untuk menyerah, dan kegagalan bukan akhir dari perjalanan.
Dari lapangan hijau, kita belajar tentang persahabatan, kesabaran, perjuangan, dan harapan. Semoga semangat Garuda terus terbang tinggi, membawa Indonesia menuju kemenangan-kemenangan berikutnya.
Sementara itu, Kasus ABK KM Maulana 23; Laut tidak pernah pandai menyembunyikan luka. Di balik nama KM Maulana 23, ada kisah para ABK yang patut mendapat perhatian serius.
Mereka bukan sekadar tenaga kerja yang ikut berlayar, tetapi manusia yang mempertaruhkan keselamatan demi nafkah keluarga. Ketika persoalan menimpa mereka, pertanyaan pun mencuat:
Siapa yang bertanggung jawab ketika hak dan keselamatan ABK berada di ujung ketidakpastian? Jangan sampai laut menjadi tempat di mana persoalan selesai tanpa kejelasan, sementara keluarga di darat hanya menerima kabar yang simpang siur.
MoKa mencatat satu hal: keselamatan ABK bukan perkara kecil dan bukan pula sekadar urusan administratif. Di balik setiap awak kapal ada anak, istri, orang tua, dan keluarga yang menunggu kepulangan.
Karena itu, kasus KM Maulana 23 harus dibuka seterang cahaya pagi apa yang terjadi, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana nasib para ABK harus dijelaskan secara transparan. Sebab hukum boleh berjalan di darat, tetapi keadilan juga harus berlayar sampai ke tengah laut.
Disisi lain, Gibran Rakabuming Raka menarik dibaca bukan sekadar sebagai putra Presiden, tetapi sebagai sosok yang sedang menjalani perjalanan politik di panggung nasional.
Dari Solo, ia melangkah ke pemerintahan dan kemudian menduduki posisi Wakil Presiden RI. Jalan politik itu tentu membawa sorotan besar: setiap keputusan, ucapan, dan langkahnya selalu berada di bawah perhatian publik.
Di sinilah tantangannya membuktikan bahwa jabatan bukan sekadar warisan nama, tetapi amanah yang harus dijawab dengan kerja nyata.
Pada akhirnya, waktu akan menjadi hakim yang paling jujur. Rakyat tidak hanya menilai siapa ayahnya, dari keluarga mana ia berasal, atau seberapa cepat karier politiknya menanjak.
Rakyat akan melihat apa yang benar-benar dilakukan untuk negeri ini. Gibran hari ini adalah bagian dari generasi muda yang mendapat ruang di pusat kekuasaan;
Pertanyaannya sederhana tetapi tajam: mampukah kekuasaan itu diterjemahkan menjadi keberpihakan kepada rakyat? Karena sejarah tidak mencatat nama besar semata, tetapi meninggalkan jejak dari apa yang pernah diperbuat.

Sementara itu, Dinamika politik Kota Makassar kembali menghangat. Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi, dikabarkan pamit dari Partai Golkar. Langkah ini tentu bukan sekadar perpindahan tempat bernaung, tetapi menjadi sinyal politik yang menarik perhatian. Dalam politik, keputusan seorang tokoh selalu membawa tafsir, ada yang melihatnya sebagai strategi, ada pula yang membacanya sebagai awal dari perjalanan baru.
Yang lebih menarik, Partai Demokrat disebut tengah menyiapkan “kejutan” untuk Appi. Apakah ini sekadar komunikasi politik atau pertanda adanya langkah besar ke depan?
Publik tentu menunggu jawabannya. Bagi Makassar, politik bukan hanya soal siapa berganti kendaraan, tetapi bagaimana setiap keputusan politik akhirnya bermuara pada kepentingan masyarakat. Sebab, di balik panggung kekuasaan, rakyat tetap menjadi penonton sekaligus penentu arah cerita.
Tetap semangat; Ada yang terhenti bukan karena tidak mampu, tetapi karena biaya. Ada tesis yang sudah di depan mata, disertasi hampir rampung, namun langkah tersendat ketika kebutuhan akademik datang bertubi-tubi.
Di tengah situasi itulah, Kementerian Agama membuka Bantuan Penyelesaian Pendidikan (BPP) S2 dan S3 Tahun 2026, dengan pendaftaran 5–12 Oktober 2026.
Bantuan ini bukan untuk mereka yang baru hendak masuk kuliah, tetapi bagi mahasiswa yang sudah menjalani pendidikan dan sedang berjuang menyelesaikan studinya.
Nilainya cukup berarti: Rp20 juta untuk S2 dan Rp25 juta untuk S3. Dana tersebut dapat menopang kebutuhan penyelesaian studi, mulai dari SPP, buku, ujian, publikasi jurnal, hingga tesis dan disertasi.
Namun, kesempatan ini bukan hadiah cuma-cuma. Ada syarat yang harus dipenuhi, antara lain mahasiswa aktif minimal semester III, telah lulus seminar proposal, memiliki dokumen perkembangan studi, transkrip akademik, surat pembimbing, rekomendasi pimpinan, serta dokumen profesi sesuai ketentuan.
Maka pesan MoKa sederhana: jangan hanya pandai bermimpi meraih gelar, tetapi harus sigap menangkap kesempatan ketika pintu dibuka.
Pendaftaran hanya berlangsung sampai 12 Oktober 2026. Mereka yang memenuhi syarat sebaiknya segera menyiapkan dokumen dan mendaftar melalui portal resmi Beasiswa Kemenag. Sebab dalam perjalanan pendidikan, kesempatan yang terlambat disambut sering kali berubah menjadi penyesalan.
Sebuah pantun penutup untuk Anda:
Pergi ke kampus membawa harapan,
Pulang membawa ilmu dan gelar.
Kesempatan jangan disia-siakan,
Selagi terbuka, segera dikejar.
Salam Literasi : Syakhruddin Tagana