Senin datang lagi. Mengetuk pintu pagi dengan langkah yang kadang terasa berat, tetapi selalu membawa pesan sederhana: hidup harus kembali bergerak.
Senin, 28 September 2026, bukan sekadar angka di kalender. Tanggal ini diperingati sebagai Hari Kereta Api Indonesia, sekaligus bertepatan dengan Hari Akses Universal terhadap Informasi.
Ada sejarah penting di baliknya. Pada 28 September 1945, setelah Proklamasi Kemerdekaan, para pejuang mengambil alih perkeretaapian dari tangan Jepang. Kantor Pusat Kereta Api di Bandung berhasil dikuasai dan kemudian lahirlah Djawatan Kereta Api Republik Indonesia.
Kereta api bukan sekadar besi yang melaju di atas rel. Ia menjadi simbol bahwa bangsa yang baru merdeka harus berani mengambil kendali atas perjalanan sejarahnya sendiri.
Tanggal 28 September juga menyimpan catatan diplomatik. Pada 28 September 1950, Indonesia diterima menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Enam belas tahun kemudian, pada 1966, Indonesia kembali diterima setelah sebelumnya keluar. Seolah tanggal ini berpesan: perjalanan bangsa tidak selalu lurus seperti rel kereta api. Ada persimpangan, pemberhentian, bahkan perjalanan yang harus dimulai kembali.
Dan Senin, 28 September 2026, perjalanan itu menemukan suasana yang lebih hangat melalui ramah tamah calon wisudawan di MYKO Hotel Makassar. Bukan sekadar acara seremonial, tetapi ruang untuk berjabat tangan, berbagi cerita, mengenang perjalanan masa kuliah, dan merajut kembali hubungan yang mungkin sempat renggang.
Sebab, jika kereta api membutuhkan rel untuk sampai ke tujuan, manusia membutuhkan silaturahmi agar perjalanan hidup tidak kehilangan arah. Kereta boleh berhenti di stasiun, tetapi persahabatan jangan berhenti pada batas waktu.
MYKO Hotel menjadi semacam “stasiun” tempat sejenak kita turun dari kesibukan: duduk bersama, menikmati hidangan, berbagi tawa, lalu melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih ringan.
Maka jangan salahkan Senin sebagai hari yang berat. 28 September justru mengajarkan bahwa setiap awal adalah kesempatan untuk bergerak. Kereta meninggalkan stasiun, bangsa menjemput masa depan, dan manusia mendekatkan hati melalui silaturahmi.
Sebuah pantun pembuka untuk anda nikmati:
Pagi datang membawa cahaya,
burung berkicau di atas dahan,
berita datang silih berganti,
menyapa hidup dan perasaan.
Sementara itu, Perang tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang paling banyak menjatuhkan bom. Kadang, kemenangan justru terasa di ruang diplomasi—ketika sebuah negara yang berada di bawah tekanan mampu membawa narasinya ke panggung dunia.
Dalam Sidang Umum PBB, Iran disebut tampil sebagai “pemenang” perang, bukan semata karena kekuatan militernya, melainkan karena kemampuannya mempertahankan posisi politik, menyuarakan kepentingan nasional, dan menarik perhatian negara-negara lain terhadap konflik yang membelitnya.
Klaim kemenangan itu tentu merupakan sudut pandang yang perlu dibaca kritis, sebab perang selalu meninggalkan korban, kerusakan, dan luka yang tak selesai hanya dengan tepuk tangan diplomasi.
Di sinilah panggung PBB menjadi menarik: senjata boleh berbicara di medan perang, tetapi kata-kata dapat menentukan bagaimana perang dikenang.
Iran berusaha menunjukkan bahwa tekanan militer tidak otomatis mematikan daya tawarnya. Namun, di balik narasi kemenangan itu terselip pertanyaan yang lebih besar: jika sebuah negara merasa menang, apakah dunia ikut menjadi lebih damai?
Sebab ukuran kemenangan yang paling manusiawi bukanlah siapa yang paling keras bertahan, melainkan siapa yang mampu mengakhiri pertikaian tanpa menambah panjang daftar korban.
Pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang berdiri paling tegak di podium, tetapi juga siapa yang berhasil membawa pulang perdamaian.
Sebaliknya Di aula Sidang Umum PBB ke-81 di New York, sebuah pemandangan tak biasa terjadi ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersiap menyampaikan pidato, Kamis, 24 September 2026 waktu setempat.
Delegasi Indonesia berdiri dan meninggalkan ruang sidang bersama puluhan delegasi negara lain. Laporan ANTARA menyebut hampir 70 negara melakukan walk out, di antaranya Turki, Palestina, Mesir, Iran, Arab Saudi, Malaysia, Qatar, Lebanon, Kuwait, dan Indonesia.
Kursi-kursi yang mendadak kosong itu menjadi gambar kuat dari sebuah forum diplomasi yang sejenak berbicara melalui keheningan.
Aksi tersebut dilaporkan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan dan operasi militer Israel di Gaza serta kawasan sekitarnya.
Netanyahu tetap melanjutkan pidatonya di hadapan ruangan yang jauh lebih lengang, bahkan menyebut para delegasi yang meninggalkan ruangan sebagai “pengecut moral”.
Di panggung PBB itu, diplomasi bukan hanya terdengar lewat pidato dan pernyataan resmi; kursi yang ditinggalkan pun berubah menjadi pesan—bahwa sebagian besar delegasi memilih menyampaikan sikapnya dengan langkah kaki sebelum kata-kata dimulai.
Sekarang Dunia seni Indonesia baru saja kehilangan Guruh Soekarnoputra, yang wafat dalam usia 73 tahun dan telah dimakamkan di TPU Karet Bivak, berdampingan dengan pusara ibundanya, Fatmawati. Ia meninggalkan jejak panjang dalam musik, tari dan kebudayaan Indonesia.
Manusia boleh pergi, tetapi karya mempunyai umur yang berbeda. Tubuh beristirahat di tanah, sementara lagu, gerak tari, gagasan dan jejak kebudayaan terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari Jakarta, kabar duka berhadapan dengan kabar gembira dari panggung olahraga Asia. Rahmat Erwin Abdullah, lifter asal Makassar, kembali mengibarkan Merah Putih setelah meraih emas Asian Games 2026 kelas 75 kilogram putra dengan total angkatan 366 kilogram, 160 kilogram snatch dan 206 kilogram clean and jerk.
Bagi Makassar, itu bukan sekadar angka. Ada nama keluarga, pelatih, kota dan perjuangan seorang anak bangsa yang mengangkat beban ratusan kilogram, sekaligus mengangkat harapan Indonesia.
Namun, ketika Rahmat mengangkat beban untuk negeri, alam Indonesia di tempat lain sedang memikul beban yang berbeda. Rinjani terbakar. Karhutla di Bukit Setampol, kawasan Gunung Rinjani, dilaporkan berdampak sekitar 723,7 hektare. Medan terjal dan angin membuat pemadaman tidak mudah.
Gunung yang selama ini menjadi tempat manusia mencari ketenangan, kini justru membutuhkan pertolongan manusia.
MoKa berhenti sejenak di sini. Sebab pembangunan bukan hanya tentang gedung tinggi, jalan mulus dan teknologi canggih. Ia juga tentang bagaimana manusia memperlakukan tanah, hutan, air dan udara. Ketika alam terluka, sesungguhnya manusia sedang menerima surat peringatan dari masa depan.
Dari Sulawesi Selatan, perhatian publik juga tertuju ke Gowa. Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang ditetapkan sebagai tersangka oleh Kortastipidkor Polri dalam perkara dugaan pemerasan, gratifikasi dan TPPU. Polisi menyebut dugaan pemerasan yang terlacak mencapai Rp1,1 miliar, sementara kuasa hukum mempertimbangkan langkah hukum, termasuk praperadilan.
Hukum memiliki jalannya sendiri. Namun setiap perkara yang menyentuh pejabat publik selalu menghadirkan pertanyaan mendasar: sejauh mana kekuasaan benar-benar digunakan untuk melayani masyarakat?
Sementara itu, ruang digital kini telah masuk ke dalam rumah melalui telepon genggam, tablet dan komputer. Wakil Gubernur Sulsel mengingatkan orang tua dan guru agar memberi perhatian terhadap penggunaan gawai anak serta berbagai risiko di ruang digital.
Satu sentuhan jari dapat membuka pintu ilmu pengetahuan. Tetapi sentuhan yang sama juga dapat membawa anak kepada informasi keliru, kekerasan, penipuan dan perundungan.
Karena itu, tugas orang tua bukan sekadar membelikan gawai. Tugas yang lebih besar adalah mendampingi anak ketika dunia berada di dalam genggaman tangannya.
MoKa mencatat: seorang seniman meninggalkan karya, seorang atlet meninggalkan prestasi, alam meninggalkan peringatan, hukum meninggalkan pertanyaan, dan teknologi meninggalkan tanggung jawab. Pada akhirnya, semua kembali kepada manusia, apa yang kita wariskan kepada generasi setelah kita.
Akhirnya Utak-atik UU Pemilu bukan sekadar permainan pasal dan ayat. Di balik revisi aturan yang mengatur pesta demokrasi itu, tersimpan pertanyaan lebih besar: ke mana arah Indonesia 2026?
Tempo menyoroti dinamika perubahan UU Pemilu dan berbagai analisis mengenai masa depan politik Indonesia, sebuah perbincangan yang menunjukkan bahwa aturan pemilu bukan hanya soal teknis mencoblos, tetapi juga tentang bagaimana kekuasaan dibentuk, dipertahankan, dan dipertanggungjawabkan.
Di titik itulah publik patut memasang mata dan telinga. Sebab setiap perubahan aturan demokrasi akan bermuara pada rakyat sebagai pemilik suara.
Pasal boleh diutak-atik, sistem boleh diperbarui, tetapi jangan sampai kepentingan rakyat justru menjadi catatan kaki.
Indonesia 2026 membutuhkan demokrasi yang bukan sekadar ramai menjelang pemilu, melainkan sehat dalam proses, adil dalam aturan, dan jujur dalam memberi ruang bagi suara warga negara.
Sampai di sini dahulu jumpa kita. Senin, 28 September 2026, insyaallah kita kembali bersua melalui lembaran Mozaik Kehidupan.
Dua hari lagi, kalender akan membuka halaman baru: 1 Oktober 2026, bulan berganti, tetapi semangat untuk menyapa pembaca melalui kabar dan cerita tetap menyala.
Terima kasih telah setia membaca MoKa, dari hari ke hari. Terima kasih pula karena tetap memberi ruang di gawai Anda bagi tulisan-tulisan yang mencoba merangkum denyut kehidupan.
Menyajikan informasi yang sedang viral di dunia maya, sekaligus menghadirkan renungan kecil di antara hiruk-pikuk berita. Sampai jumpa pada penerbitan berikutnya. Salam sukses, sehat, dan bahagia untuk Anda semua.
Pantun Penutup
Pergi ke pasar membeli pepaya,
Pulangnya singgah membeli roti.
Kalau MoKa tak muncul di gawai Anda,
Jangan-jangan Wi-Fi-nya sedang sakit hati!
