Gambar Motivasi Kerja

Setiap orang, apa pun pekerjaan dan profesi yang digelutinya, senantiasa mendambakan untuk menjadi pribadi yang mendatangkan manfaat bagi keluarga, sahabat, teman sejawat, dan masyarakat. Beragam cara dapat dilakukan seseorang untuk mendatangkan manfaat, baik melalui ucapan, pikiran, maupun tindakan. Termasuk di dalamnya adalah sikap dan kepedulian terhadap orang lain, baik ketika meraih kesuksesan maupun saat mengalami ketidakberuntungan.

Keinginan untuk mendatangkan manfaat tidak hanya diwujudkan melalui bantuan materi, tetapi juga melalui tenaga dan pikiran. Prinsip untuk mendatangkan manfaat bagi orang lain harus menjadi komitmen yang dilandasi kesadaran bahwa tidak ada satu pun yang diciptakan Allah secara sia-sia. Karena itu, Allah menyuruh kita melakukan yang terbaik, sebagaimana Dia telah berbuat baik kepada semua ciptaan-Nya.

Belajar dari sifat Maha Kasih dan Maha Sayang Allah, untuk menjadi yang terbaik dalam hidup ini, kita perlu memperhatikan hal-hal berikut.

Pertama, motivasi kerja. Motivasi kerja harus dilandasi dengan keinginan mencari keridaan Allah. Jika seseorang menekuni profesi yang digelutinya atas dasar ini, apa pun yang dikerjakannya tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan dan keperluan hidup dirinya dan keluarga, tetapi juga menjadi ibadah baginya. Dalam ajaran agama, ada kesalahan yang dilakukan seseorang dalam menjalani hidup yang tidak dapat terhapus dengan ibadah apa pun. Kesalahan itu hanya dapat dihapus dengan bersusah payah mencari nafkah.

Kedua, cara kerja. Pekerjaan atau profesi apa pun yang digeluti tidak boleh menganut prinsip asal kerja, asal jadi, atau asal selesai. Islam tidak menoleransi prinsip seperti ini. Sebaliknya, setiap pekerjaan harus dilakukan dengan cara terbaik, yang dikenal dengan istilah kerja profesional. Sebagai politisi, birokrat, akademisi, ekonom, maupun dalam bidang pertahanan dan keamanan, semuanya meniscayakan profesionalisme.

Ketiga, jenis pekerjaan. Mulia atau tidaknya suatu pekerjaan tidak diukur dari halus atau kasarnya pekerjaan tersebut. Tidak pula dilihat dari apakah pekerjaan itu dilakukan dengan menggunakan otot atau otak, melainkan dari dapat tidaknya pekerjaan itu dipertanggungjawabkan secara moral di hadapan Allah.

Alkisah, pada masa Rasulullah, seorang sahabat Nabi bernama Abu Saad Al-Anshari bersalaman dengan Nabi. Saat itu, Nabi bertanya mengapa tangannya kasar dan tidak mulus seperti tangan orang lain. Abu Saad menjawab bahwa tangannya kasar karena profesinya sebagai petani. Ia juga sering bertukang dan memecah-belah batu untuk kemudian dijual demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Mendengar jawaban Abu Saad, Nabi, yang sering kali dicium tangannya oleh umat Islam, justru mencium tangan Abu Saad Al-Anshari. Beliau berkata bahwa tangan seperti itulah yang akan selamat dari jilatan api neraka karena tidak membeda-bedakan pekerjaan.

Keempat, manfaat pekerjaan. Setiap pekerjaan yang digeluti seseorang hendaknya senantiasa berorientasi pada manfaat yang dapat diperoleh dari pekerjaan tersebut. Semakin banyak orang yang mengambil manfaat dari pekerjaan yang kita lakukan, semakin tinggi pula kualitas nilai amal saleh dari pekerjaan itu.

Karena itu, dalam perspektif keagamaan, memberi beasiswa kepada anak yang cerdas tetapi tidak mampu secara ekonomi, memberi tip kepada petugas kebersihan, dan memberi honor kepada guru mengaji lebih utama daripada berzikir semalam suntuk. Dalam perspektif manfaat, zikir itu hanya bermanfaat bagi diri orang yang berzikir. Sementara itu, pemberian beasiswa, tip, dan honor tidak hanya bermanfaat bagi orang yang menerimanya, tetapi juga bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Keutamaan suatu kebaikan bergantung pada seberapa banyak orang yang memperoleh manfaat dari kebaikan yang kita kerjakan. Karena itu, dalam hidup ini, jadilah pribadi yang terbaik dengan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain. (*)