Gambar MENULIS TOKOH HISTORIS SULAWESI SELATAN


Mengapa saya begitu tekun menulis tentang tokoh-tokoh Sulawesi Selatan? Salah satu motivasi saya datang dari sebuah ungkapan tokoh Ikhwanul Muslimin:
"Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi satu tulisan bisa menembus seribu bahkan jutaan kepala."

Selain itu, ada motivasi pribadi yang semakin memperkuat tekad saya. Setiap tokoh yang saya tulis justru memberi manfaat yang kembali kepada diri saya sendiri.

1. Amin Syam: Pengabdian Tanpa Batas

Salah satu tokoh yang memberi inspirasi besar bagi saya adalah almarhum Amin Syam. Suatu ketika, saya menanyakan pendapat beliau tentang anggapan bahwa dirinya "menurun" setelah tak lagi menjabat sebagai gubernur dan kini mengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI). Dengan penuh keyakinan, beliau menjawab,
"Dari semua jabatan yang pernah saya sandang, inilah yang paling besar dan mulia. Bukankah mengurus rumah Allah adalah jabatan paling mulia? Seorang prajurit tidak mengenal halte. Satu-satunya halte adalah jika Tuhan sudah datang memanggilnya."

Jawaban ini mengajarkan saya bahwa pengabdian sejati tidak diukur dari jabatan, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada umat.

2. Husni Djamaluddin: Belajar dari Sang Penyair

Almarhum Husni Djamaluddin adalah sahabat sekaligus guru yang memberi saya banyak pelajaran dalam dunia sastra, khususnya dalam menulis puisi. Saya mencoba meneladani gayanya, meskipun menyamai kualitas puisinya masih terasa jauh bagi saya. Namun, saya tidak akan berhenti di "halte", melainkan akan terus belajar dan menulis hingga suatu saat bisa mendekati level beliau.

Buku tentang Husni Djamaluddin kini telah rampung, hanya menunggu finalisasi dari putrinya, Yuyun, yang saat ini tengah menjalankan misi ke Timur Tengah.

3. H. Fadli Luran: Menjadi Manusia yang Bermanfaat

Dari sejarah hidup almarhum H. Fadli Luran, saya belajar banyak tentang bagaimana menempatkan diri sebagai manusia yang berguna bagi sesama dan menjadi uswatun hasanah. Di tengah semakin langkanya keteladanan, beliau adalah figur yang patut diteladani.
Bagi saya, kebaikan orang yang saya tulis berarti ikut menikmati kebaikan itu karena berusaha memantulkannya ke dalam diri sendiri.

Saya menyadari bahwa jika semua ini saya lakukan karena bayaran, mungkin saya tidak akan bisa melakukannya dengan sepenuh hati. Tetapi karena saya niatkan lillahi ta'ala, maka setiap tulisan menjadi ladang amal yang terus mengalir.

Refleksi dari Seorang Sahabat di Luar Negeri

Seorang sahabat yang tinggal di luar negeri merespons tulisan saya dengan penuh apresiasi, yaitu:

"Bapak tidak hanya melestarikan keteladanan para tokoh, tetapi juga memperkaya jiwa dan wawasan sendiri. Kisah almarhum Amin Syam mengajarkan keteguhan prinsip dan makna sejati sebuah pengabdian. Almarhum Husni Djamaluddin menginspirasi dalam seni dan sastra, sementara almarhum H. Fadli Luran memberikan pelajaran tentang makna kebermanfaatan dalam hidup. Sejarah Sulawesi Selatan masih seperti hutan belantara, dan perlu sejarawan seperti Bapak untuk terus membukanya."

Saya semakin menyadari bahwa menulis tentang tokoh-tokoh ini membuat saya merasa semakin dekat dengan keluarga mereka. Bahkan, saya merasakan seolah menjadi bagian dari keluarga mereka sendiri. Namun, apakah perasaan ini juga dirasakan oleh mereka, atau hanya sekadar perasaan sepihak dari saya?

Saya teringat sebuah kisah dalam syair Arab tentang seorang perempuan bernama Layla, yang memiliki kecantikan mempesona dan akhlak yang begitu luhur. Karena sikapnya yang baik kepada semua orang, banyak yang mengira bahwa ia memiliki perasaan khusus terhadapnya. Namun, saat ditanya, ia menjawab, "Saya memperlakukan semua orang dengan baik, tanpak ada perbedaan dan itulah sebabnya mereka merasa istimewa." Jadi, bisa lagi menjadi sebuah kaidah sosial bahwa semua orang baik yang paripurna akan menimbulkan perasaan positif yang memandangnya.

Alhamdulillah, setelah saya tanyakan kepada keluarga para tokoh yang saya tulis, mereka pun merasakan hal yang sama. Ini semakin menguatkan saya bahwa menulis bukan hanya tentang mendokumentasikan sejarah, tetapi juga tentang membangun hubungan yang lebih dalam dengan warisan moral dan intelektual yang mereka tinggalkan.

Benar, satu-satunya "halte" dalam perjalanan ini hanyalah jika panggilan Tuhan sudah datang mengetuk pintu. Semoga Allah memberikan kesehatan dan keberkahan agar saya dapat terus menulis dan berbagi hikmah bagi banyak orang.


Wasalam,
Kompleks GFM, 22 Maret 2025