Apakah benar seseorang menjadi mulia dengan merendahkan orang lain?
Apakah keunggulan harus dibuktikan dengan merusak nama, mencabik martabat, dan menabur luka?
Dan mengapa sebagian manusia merasa lebih bercahaya justru ketika berhasil memadamkan cahaya orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan idiatas menggiring kita pada satu kesadaran, tidak semua yang terlihat tinggi benar-benar mulia.
Ada ketinggian palsu yang dibangun di atas reruntuhan kehormatan orang lain, dan ada kebesaran sejati yang tumbuh diam-diam dari kejujuran, kerja keras, serta kerendahan hati. Dua hal ini terlihat serupa di permukaan, tetapi sangat berbeda di mata nurani.
Menjatuhkan nama orang lain demi mengangkat diri sendiri sejatinya bukan tanda kekuatan, melainkan pertanda kelemahan batin yang belum selesai.
Ia adalah jeritan sunyi dari hati yang belum berdamai dengan ketulusan. Sebab orang yang benar-benar yakin pada nilainya tidak membutuhkan celaan sebagai tangga. Ia tahu, martabat tidak naik karena orang lain jatuh.
Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan agar kehormatan manusia dijaga, bukan dirusak:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, boleh jadi mereka yang direndahkan itu lebih baik dari mereka.”(QS. Al-Hujurat: 11).
Ayat ini menohok kesadaran kita, bahww siapa pun yang kita jatuhkan, boleh jadi di sisi Allah ia jauh lebih mulia daripada kita.
Maka merendahkan orang lain sejatinya adalah perjudian moral yang selalu berakhir dengan kerugian.
Rasulullah SAW. bahkan menjadikan lisan sebagai cermin kualitas iman seseorang. Beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini bukan sekadar anjuran etika berbicara, tetapi standar keimanan. Menjatuhkan nama orang lain bukan hanya masalah sosial, melainkan indikator rapuhnya iman yang belum terlatih menahan ego.
Ironisnya, banyak orang mengira bahwa membuka aib orang lain akan mengangkat harga dirinya. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Rasulullah SAW. mengingatkan:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.”(HR. Muslim).
Jika menutup aib mendatangkan kemuliaan, maka membuka aib adalah jalan menuju kehinaan , meski disamarkan dengan alasan kritik, kepedulian, atau kejujuran.
Para sahabat Nabi memahami betul bahwa kehormatan diri dijaga dengan menjaga kehormatan orang lain. Ali bin Abi Thalib RA. berkata:
مَنْ نَصَبَ نَفْسَهُ لِلنَّاسِ إِمَامًا فَلْيَبْدَأْ بِتَعْلِيمِ نَفْسِهِ.
“Barang siapa menempatkan dirinya sebagai panutan manusia, hendaklah ia memulai dengan mendidik dirinya sendiri.”
Ucapan ini menampar kesombongan tersembunyi: mengoreksi orang lain tanpa memperbaiki diri adalah kezaliman yang dibungkus kepura-puraan.
Para ulama juga mengingatkan bahwa lisan adalah pintu terbesar kerusakan spiritual. Imam al-Ghazali menulis:
“أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ مِنْ لِسَانِهِ.”
“Kebanyakan kesalahan anak Adam berasal dari lisannya.”
Menjatuhkan nama orang lain melalui lisan atau tulisan bukan sekadar kesalahan komunikasi, tetapi kerusakan batin yang pelan-pelan menggerogoti cahaya hati.
Sesungguhnya, orang yang menjaga lidahnya sedang menjaga kehormatannya sendiri. Ia paham bahwa harga diri tidak bertambah dengan merendahkan orang lain, tetapi dengan memperbaiki kualitas diri secara sunyi. Ia memilih menaikkan derajatnya dengan amal, bukan dengan aib orang lain.
Allah berfirman:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati.”(QS. Al-Furqan: 63)
Kerendahan hati bukan tanda kalah, melainkan tanda kedewasaan spiritual. Orang yang rendah hati tidak sibuk menjatuhkan, karena ia sibuk menumbuhkan kebaikan.
Keindahan hidup tidak terletak pada seberapa banyak orang yang kita rendahkan, tetapi pada seberapa banyak kebaikan yang kita seduhkan dengan hati yang tulus dan tindakan yang murni.
Kebaikan yang lahir dari ketulusan tidak perlu panggung, tidak butuh saksi, dan tidak memerlukan korban.
Maka jika hari ini engkau mampu menahan lidahmu dari menuduh, merendahkan, dan menjatuhkan, ketahuilah: engkau sedang menyelamatkan kehormatanmu sendiri. Dan jika engkau memilih membangun nama baikmu dari kerja keras, kejujuran, serta sikap rendah hati, yakinlah bahwa kemuliaan itu akan datang tanpa perlu kau kejar.
Sebab kebesaran sejati tidak pernah lahir dari menjatuhkan, melainkan dari meninggikan nilai-nilai kemanusiaan.
Dan hanya hati yang terang yang mampu melihat bahwa martabat tidak tumbuh dari puing-puing orang lain, tetapi dari ketulusan yang dijaga dalam sunyi.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab
Alat AksesVisi