Menarik mengikuti alur pikir Prof. Hamdan tentang ekosentris vs egosentris. Untuk merespon coretan di hari ke 27 Ramadhan ini, saya memulai dengan menuliskan pengalaman pribadi ketika berada di jalan raya, dan melengkapi coretan tersebut dengan ulasan tentang kebersihan lingkungan psikis.
Beberapa waktu lalu, Jumat saat menuju mesjid untuk khutbah, saya melihat sebuah mobil pribadi melaju di depan saya. Tiba-tiba, dari jendela mobil itu, seseorang membuang kulit jagung begitu saja ke jalan. Itu terjadi berulang kali di sepanjang jalan raya dari Alauddin hingga Ratulangi. Di sinilah egosentris menyeruak di khalayak publik.
Pemandangan itu membuat saya mengernyit. Bagaimana mungkin seseorang yang cukup mampu untuk memiliki kendaraan pribadi, yang mungkin juga berpendidikan, masih abai terhadap kebersihan lingkungan? Bukankah lebih mudah menyimpan sampahnya sebentar, lalu membuangnya di tempat yang semestinya?
Peristiwa itu mengingatkan saya pada hal lain yang sering saya temui di tempat-tempat yang semestinya menjunjung tinggi kebersihan yaitu rumah ibadah. Saya melakukan riset dengan mahasiswa untuk meneliti terkait kebersihan toilet dan tempat wudhu. Hasil riset menunjukkan di banyak masjid, toilet dan tempat wudu sering kali kotor dan tidak terawat. Lantai yang licin oleh air menggenang, tisu berserakan, dan bau yang tak sedap menyambut siapa saja yang masuk. Padahal, mereka yang datang ke sana tentu paham betul pentingnya taharah—bersuci, baik secara fisik maupun spiritual. Sayangnya, pemahaman itu sering kali berhenti di ranah teori, tanpa benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata.
Ada sisi lain dari coretan Prof. Hamdan yang belum tersentuh, yaitu kebersihan lingkungan psikis.
Kita sering menganggap kepedulian terhadap lingkungan hanya sebatas menjaga kebersihan fisik. Padahal, ekosentrisme sejati tidak hanya tentang membuang sampah pada tempatnya atau memastikan air wudu tidak terbuang sia-sia. Lebih dari itu, kebersihan juga mencakup aspek psikis—bagaimana kita menjaga hubungan sosial, memperkuat persahabatan, dan membangun komunitas yang sehat. Apa gunanya masjid yang bersih jika jamaahnya saling curiga? Apa artinya lingkungan yang rapi jika di dalamnya penuh perselisihan?
Menjaga kebersihan, baik fisik maupun psikis, adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan sampai kita hanya sibuk menuntut orang lain untuk peduli, sementara kita sendiri masih mengabaikannya.
Sungguminasa 27 Ramadhan 1446 H
Barsihannor