Gambar Komitmen Merdeka

SEORANG pemikir etika Immanuel Kant mengatakan bahwa dalam kehidupan, “kita sering kali kagum pada bintang yang ada di langit, kagum pada bintang di lapangan, kagum pada bintang di panggung, tapi jarang kita kagum pada bintang yang ada di hati kita masing-masing, itulah nurani”.

Ketika akan melakukan aktivitas yang merugikan orang lain, berbuat zalim kepada sesama, atau mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Maka, yang pertama kali menjerit adalah nurani kita, dengan jeritan jangan lakukan itu tidak benar, jangan ambil itu bukan milikmu. Namun suara nurani itu tidak lagi terdengar, karena kepentingan, egoisme dan keserakahan.

Bangsa Indonesia sama dengan bangsa-bangsa yang pernah dijajah pada umumnya, di mana masyarakatnya dipaksa bekerja di bawah todongan senjata. Sehingga gampang marah, dan senantiasa mencari jalan pintas. Ingin sukses dalam studi, tapi tidak bersungguh-sungguh menuntut ilmu.

Mendambakan penghargaan, tapi tidak memiliki prestasi kerja. Mengharapkan kebutuhan hidup terpenuhi, tanpa usaha dan kerja keras.

Berbeda dengan pengalaman bangsa Jepang, sebagaimana yang ditulis Komaruddin Hidayat dalam bukunya Politik Panjat Pinang, bahwa hancurnya Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II, dijadikan momentum dan tekad bangsa Jepang untuk bangkit melawan Barat, tetapi dalam wujud ledakan produksi teknologi otomotif dan elektronika yang amat kompetitif, sehingga Barat dibuat kelabakan.

Demikian pula Jerman, Korea Selatan, Malaysia, dan China, semuanya melakukan konsolidasi dengan melakukan perbaikan spektakuler di bidang pendidikan, memperkuat riset teknologi, investasi modal nasional, dan menegakkan supremasi hukum.

Yang terjadi di negeri ini justru konspirasi untuk melecehkan hukum yang menghancurkan etika berbangsa.
Hal lain yang berkaitan dengan memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 80, adalah bahwa bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai macam etnis, suku dan agama dikenal sebagai masyarakat yang sangat religius. Dalam mengisi kemerdekaan di mana peran agama?.

Kalau bangsa ini mengaku sebagai bangsa yang beragama, maka seyogianya seluruh aktivitas kehidupan bermasyarakat terinspirasi oleh ajaran agama. Misalnya dalam masalah kerja.

Karena bekerja selain sebagai perwujudan perintah agama, juga merupakan komitmen anak bangsa dalam mengisi kemerdekaan selama memenuhi kriteria:

Pertama, motivasi kerja dalam rangka mencari ridho Allah. Di masa Nabi ada seorang lelaki yang berusia muda, pisiknya kuat dan ulet bekerja. Sahabat Nabi berkata: Sungguh berbahagia lelaki itu, sekiranya usia mudanya dan kekuatan pisiknya digunakan untuk berjihad di jalan Allah. Nabi berkata: Jangan berkata begitu sahabatku, kalau lelaki itu keluar dari rumahnya untuk bekerja agar memperoleh belanja untuk keluarganya, jika dia bekerja dengan maksud agar tidak menjadi peminta-minta, maka lelaki itu berjihad di jalan Allah.

Kedua, cara kerja. Dalam Islam bekerja bukan asal jadi, bukan asal selesai, bukan asal kerja. Namun terinspirasi dari makna ihsan, maka setiap pekerjaan harus dilakukan dengan yang terbaik dan semaksimal mungkin. Inilah yang disebut dengan kerja-kerja profesional.

Ketiga, jenis pekerjaan. Islam tidak membedakan pekerjaan dari jenisnya kasar atau halus, tidak pula membedakan dari cara penyelesaiannya dengan otot atau otak. Sepanjang dapat dipertanggungjawabkan secara moral apa pun bentuk dan jenis pekerjaan itu.

Keempat, manfaat kerja. Tidak hanya membawa manfaat untuk diri sendiri, melainkan harus berorientasi pada manfaat orang banyak. Karena dalam Islam, semakin banyak orang mengambil manfaat dari kebajikan yang kita kerjakan, semakin tinggi kualitas kebajikan itu.

Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 80, kita perkuat tekad dan komitmen untuk berani melawan arus gelombang demoralisasi dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam lingkungan kantor, keluarga, maupun masyarakat. Dengan demikian kita baru dapat disebut sebagai bangsa yang memiliki komitmen merdeka. (*)