Gambar KELONG PENDIDIKAN RELIGIUS (23)  ILMU  DAN PESTA PERNIKAHAN
 
Salah satu bentuk  kelong Makassar adalah bentuk kiasan. Syair berikut ini merupakan personifikasi  atau gaya Bahasa kiasan yang menggambarkan benda atau obyek tak hidup  seolah-olah memliki sifat seperti makhluk hidup atau manusia.  Atau gaya Bahasa yang mempersamakan benda-benda  dengan manusia (punya sifat, kemampuan, pemikiran, dan perasaan) Leluhur kita melahirkan kelong dalam bentuk kiasan sebagai berikut.
 
ᨅᨈᨘ ᨑᨈᨙᨆ ᨑᨗᨅᨘᨒ  /
Battu ratema ribulang (aku telah berkunjung ke bulan)
 
ᨆᨀᨘᨈᨊ ᨑᨗᨅᨗᨈᨚᨕᨙ. /
 
Makkuta’nang ribintoeng (bertanya banyak hal pada bintang-bintang yang bertaburan)
 
ᨕᨄ ᨀᨊᨊ  /
Apa kananna (mereka  pada menjawab dan berkata)
 
ᨅᨘᨈᨗ ᨒᨚᨄᨚᨍᨀᨚ ᨔᨒ /
 
Bunting lompo jako sallang (Engkau akan kawin yang dirayakan  dengan pesta besar dan meriah) 
 
Kelong tersebut di atas bisa bermakna, bahwa seseorang telah menuntut ilmu setinggi  mungkin sehingga bisa sampai kebulan.  Dengan ilmu pengetahuan, seseorang bisa menjelajahi ruang angkasa. Allah berfirman,  “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS. Ar-Rahman, 55:33)
 
Ilmu pengetahuan adalah salah satu bentuk kekuatan yang dapat menembus penjuru langit dan bumu. Oleh karena itu, sepatutnya manusia harus menuntut ilmu. Allah berfirman “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semunya (ke medan perang) Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah,9:122)
 
Manusia dalam menggali ilmu, mereka mendiskusikan dan saling bertanya tentang banyak hal, seabagai mana banyaknya bintang-bintang  yang bertaburan dan  gemerlapan   di langit. Membaca (tulisan maupun fenomena alam) merupakan factor penting untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Taburan bintang di langit dan hamparan pasir di laut adalah fenomena alam sebagai tanda kekuasaan Allah yang perlu dipelajari. Allah berfirman “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran, 3: 190)  
Wahyu pertama menekankan pentingnya membaca (tulisan dan fenomena alam) Firman Allah “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq, 96 :1) Dengan membaca, lahirlah penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Dari penguasaan ilmu dan keterampilan yang dimiliki,  maka seseorang akan dapat meningkatkan kehidupan ekonominya. Kondisi ini dapat menjawab, bahwa dengan ekonomi yang mapan, maka dia dapat mengundang banyak orang utuk menghadiri  dan merayakan pesta besar pernikahannya, sebagaimana ucapan bintang yang bertaburan dalam ungkapan kelong “ᨅᨘᨈᨗ ᨒᨚᨄᨚᨍᨀᨚ ᨔᨒ" (bunting lompo jako sallang) Semoga.
      
Pao-pao  Gowa, Ahad, 23 Maret  2025.