Gambar KELONG PENDIDIKAN RELIGIUS  (13)  GAYUNG TAK BERSAMBUT.

Seorang pemuda, hidup berkepribadian muslim menunjukkan karakter kesalehannya. Dia hidup dalam kemuliaan karena selalu mendekatkan diri kepada Allah. Ia pun membangun silaturrahmi terhadap sesama. “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manuasia…(QS. Ali Imran, 3: 112)  Dari karakter kesalehan pemuda tersebut, menjadikan  seorang gadis bersimpati padanya dan mengharap hadir di sisinya.  Pemuda itu paham, bahwa dirinya selalu diperhatikan dan didambakan  oleh sang gadis, tetapi ia tidak menyambu harapan sang gadis tersebut. Dalam kaitan ini, dapat disimak kelong berikut.

KUASSENG TONJI KALENGKU,
TULIMA NUPARIATI,
MALLAKA NAKKE,
NATUNRAI TUTOANU. 
Arti bebasnya:  Diriku sangat paham, bahwa engkau  selalu mengharap kehadiranku,  aku tidak menyambutnya, karena takut  ditolak dan mendapat sumpah dari ibu-bapakmu.”
Gadis yang jatuh cinta  pada pemuda, biasanya tidak mempersoalkan status social pemuda itu.  Kelong di atas menggambarkan, bahwa seorang pemuda sangat  didambakan oleh seorang gadis, tetapi ia tidak menyembut dambaan gadis  itu, karena takut pada orang tua sang gadis.  Pada zaman Siti Nurbaya dahulu, ada tiga fenomena yang  sering terjadi. 1 “Erang Kale” (seorang gadis membawa/ melarikan diri ke pak Imam)  Ia minta pertanggungjawaban seorang pria yang ia cintai. 2 “Silariang” (kawin lari, keduanya / laki-peremuan setuju kawin lari) 3. “Nilariang” (laki-laki memaksa perempuan membawa lari ke rumah pak imam) Banyak factor penyebab  terjadinya kawin lari maupun Erang Kale. Salah satunya adalah ketidaksetujuan orang tua sang gadis pada laki-laki yang dicintai anaknya.  Islam mengajarkan supaya orang tua mencarikan jodoh anaknya. Syarat utama perjodohan adalah agama. Kalau seoang laki-laki sudah menjalankan agama dengan baik, maka orang tua sang gadis  tidak perlu menolaknya. Artinya, setiap orang tua wajib mendidik anaknya untuk taat beragama. Semoga generasi muda bangsa, menjadi anak saleh – salehah yang dapat membangun rumah tangga bahagia.   
   Pao-Pao Gowa,  Sabtu, 13 Ramadan 1445 H /  23  Maret 2024 M.