Sengaja ulasan ini diberi judul Keimanan Darurat karena saya hanya fokus mengomentari paragraf kedua coretan Prof Hamdan di hari ke 21 Ramadhan ini. Coretan yang membentang banyak peristiwa yang diceritakan dalam Al-Qur'an
Mengikhtisar ceramah pak Kiyai Andi Aderus, Prof. Hamdan mengulas bagaimana Fir'aun menyatakan beriman saat menghadapi maut. Fir'aun berkata; Aku percaya tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).” (QS Yunus: 90)
Deklarasi keimanan yang diucapkan Firaun mencerminkan fenomena "iman darurat" suatu bentuk kesadaran spiritual yang muncul karena tekanan atau mengalami kondisi krisis. Dalam kisahnya, Fir'aun yang selama ini sombong dan menolak kebenaran tiba-tiba mengaku beriman saat nyawanya di ujung tanduk. Namun, keimanannya ditolak karena bukan berasal dari hati yang tulus, melainkan hanya reaksi spontan akibat ketakutan. Keimanan yang hanya muncul dalam keadaan darurat, tanpa adanya komitmen sebelumnya, tidak selalu diterima sebagai keimanan yang sejati (lihat QS. Ghafir 84-85)
Kondisi krisis bisa menghasilkan dua kesadaran utama. Pertama, kesadaran bertuhan (God Consciousness). Kedua kesadaran kekuatan (power consciousness).
Fenomena hadirnya kesadaran bertuhan (God consciousness) dalam situasi krisis atau kritis sebenarnya bisa dimaknai secara lebih luas. Banyak orang yang ketika menghadapi kesulitan atau kritis tiba-tiba secara refleks mengingat Tuhan.
Saat seseorang sehat dia mungkin lebih banyak lupa kepada Tuhan, tapi di saat krisis (sakit) tiba-tiba intens berzikir atau membaca. Penumpang pesawat tiba-tiba berteriak takbir atau mengucapkan istighfar saat terjadi turbulensi dahsyat karena cuaca buruk. Padahal di saat penerbangan normal mungkin saja dia tidur, atau menikmati hidangan atau bercengkrama dengan temannya.
Ini menunjukkan bahwa fitrah manusia memang cenderung mencari perlindungan pada kekuatan yang lebih besar dalam kondisi genting. Mencari Tuhan saat krisis. Inilah yang terjadi saat penumpang kapal pesiar Titanic akan tenggelam. Mereka berkata; God is great yang dalam Islam dikenal dengan takbir (Allah Akbar)
Hanya saja, berbeda dengan kasus Fir'aun. Dalam banyak situasi, kesadaran bertuhan yang muncul di saat kritis bisa menjadi titik awal bagi seseorang untuk lebih dekat dengan Tuhan secara konsisten. Jika pengalaman tersebut diresapi dan diteruskan dalam keseharian, maka ia bisa bertransformasi menjadi keimanan yang lebih matang dan mendalam. Oleh karena itu, meskipun awalnya muncul karena situasi terdesak, kesadaran spiritual ini tetap memiliki potensi positif selama tidak hanya bersifat sementara dan hilang setelah krisis berlalu. Beda dengan Firaun, keimanannya ditolak karena keimanan darurat.
Sungguminasa 21 Ramadhan 1446 H
Barsihannor