Gambar Indra Keberagamaan (20)
 
Selamat buat kaum Multitasking, kaum perempuan hebat pada Hari Kartini. Perempuan itu diciptakan untuk menjadi tangguh dan berdiri kokoh. Salah satu ketangguhannya, tidak banyak perempuan lelah jadi perempuan, yang banyak laki-laki. Beberapa teman saya yang laki-laki sering berandai andai dirinya perempuan. Saya-pun sering melihat pada banyak ruang dan waktu, laki-laki merubah dirinya jadi perempuan.
Saya tidak bermaksud menyudutkan kaum saya, laki-laki. Saya juga tidak bermaksud membandingkan antara laki-laki dan perempuan, karena memang tidak sebanding, kalau dibandingkan, 3 banding 1. Tiga kali gradenya perempuan di atas dari laki-laki. Dasarnya jelas, ketika seorang Sahabat bertanya kepada Rasul, siapa yang harus dihormati, beliau menyebut tiga kali ibu, baru menyebut ayah.
Saya pikir kenapa istilah kodrat selalu disematkan kepada perempuan, karena itu adalah "politik pembatasan" yang mungkin dilakukan oleh laki-laki, tapi saya tidak tahu siapa orangnya. Karena tanpa pembatasan kodrat, perempuan akan menginvasi ruang-ruang kekuasaan laki-laki tanpa batas, bukan karena kemauannya tapi karena ketangguhannya.
Salah satu ketangguhan kaum perempuan yang membuat laki-laki tergantung padanya sampai kiamat adalah kemampuan "multitasking" yang tidak mungkin dimiliki laki-laki. Sekali laki-laki menonton bola, sarungnya yang terlepas pun sudah tidak peduli. Tidak ada kuasa lain yang dimiliki selain fokus pada satu pekerjaan. Sedih juga sih dengan kelemahan ini. Dua anak saya suka meminta apa-apa yang sering saya tolak saat saya menonton cuplikan bola atau fokus mengerjakan sesuatu. Dan jawaban saya selalu: iya. Saat saya bertanya siapa suruh beli itu? Mereka menjawab, Bapak sudah iyakan.
Mari menengok ketangguhan kaum perempuan. Saat mereka memasak, mereka juga cuci piring, sambil mengecek resep di Hp. Kaum laki-laki? Kemungkinan Hp akan tenggelam di sela-sela cucian gelas. Mereka beri makan anaknya juga sambil makan. Mereka-pun tidak pernah kenyang karena hanya memakan sisa makanan anaknya. Pengorbanan terbesar mereka pada makanan adalah mereka mencoba rasa makanan untuk mengetes cita rasa demi suami. Mereka bahkan tidak pernah menyukai rasa makanan yang mereka masak. Bukan tidak menyukai, mereka sudah menanamkan pemahaman bawah sadar bahwa yang dimasak itu bukan untuk dirinya.
Saya dulu sering mencoba membantu isteri waktu anak saya masih bayi, dengan menyuapnya. Saya duluan kenyang, dan anak saya sering menangis karena 3 kali saya suap diri saya baru ke anak saya. Kaum perempuan bisa menyuap anaknya sambil membalas chat dan sesekali mengomel bila diperlukan.
Masih ingin contoh multitasking yang sangat mempesona dari kaum perempuan karir? Mereka mempersiapkan buka puasa sambil mengikuti zoom. Saat gilirannya bertanya atau memberi komentar, mereka bisa tersambung dengan apa yang dibicarakan. Mata dan telinga mereka selalu bisa bekerja secara sinergis. Matanya bisa melihat kiri-kanan tanpa harus fokus. Telinganya bisa mendengar apa saja tanpa memasang kuping. Makanya kaum lelaki, jangan suka berbisik dengan teman di depan isteri, karena itu bisa didengarnya dengan jelas. Dan untuk para isteri, kalau bicara dengan temannya, tidak usah berbisik, karena bicara keras saja, suami sering tidak dengar.
Itulah, Kartini merepresentasi ketangguhan dan kepiawaian kaum perempuan. Kartini juga mewakilkan diri tentang perempuan yang selalu menjadi penentu bagi pencapaian laki-laki. Kartini meredefinisi tentang kodrat yang sering disalahpahami. Kartini sudah mati, tapi di sekitar anda kaum lelaki, ada Kartini-Kartini lain yang hidup. Kartini yang diperingati sekarang adalah pahlawan nasional, tapi Kartini di sekitar anda adalah pahlawan kehidupan, "the Multitasking Hero". Sudah dulu yah, saya tidak bisa makan sahur, karena menulis celoteh ini.