Gambar INDAHNYA KOMPAK BER-IDUL FITRI


Kekompakan umat Islam adalah kunci kesuksesan dalam berbagai bidang kehidupan, baik di dalam shalat berjamaah maupun di luar ibadah shalat.

Ketahuilah, kekuatan umat Islam terletak pada setiap individu Muslim. Kekuatan setiap individu Muslim adalah berjamaah secara kompak.

Berjamaah secara kompak bukan hanya diterapkan dalam shalat berjamaah di masjid, tapi berjamaah secara kompak pada semua lini kehidupan. 

Andai umat Islam senantiasa kompak berlebaran pada hari yang sama, demi Allah tak mungkin terkalahkan jauharnya. Saking indahnya kekompakan berhari raya itu.

Tak peduli seberapa cerdas otak Anda, jika Anda bermain sendirian di lapangan, maka Anda akan selalu kalah dari tim yang melawan Anda.

Seperti inilah kerap terjadi di negeriku, sejak dulu berbeda 1 Ramadhan dan 1 Syawal hg kini. 

Anehnya, justru tidak diperselisihkan adalah 1 Muharram, 1 Dzulhijjah, dll. 
Bukan pula 17 Agustus.

Ada apa ini bro?

Sekali lagi, indahnya kekompakan berlebaran Idul Fitri 1446 H andai diwujudkan setiap Muslim dan Ormas Islam di negeriku.

Bukankah umat Islam akan melahirkan kekuatan super terkuat di dunia nyata bila mewujudkan ion-ion kekompakan?

Dengan kekompakan umat Islam membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Aku heran, ribuan teori sudah dihadirkan, namun kekompakan umat Islam berhari raya di negeriku "Jauh panggang dari api".

Di butala negeriku, memang orang hebat melimpah ruah.
Manusia cerdas berlebihan.
Sosok pandai beretorika membeludak.
Jagoan pun meluber.
serta, Tau Kaddoro’ dan Tau Keddo juga penuh sesak. 
Tau Sisêlê’ Ota’ Loppo Na Ota’ Beiccu’ Na juga ada.

Pendeknya, penghuni Nusantaraku komplet paripurna, mazhab rancak & rumpun obsolet saling melebur.

Hanya di negeriku, sulit kompak berhari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Padahal, bila kekompakan diimplementasikan bisa mencapai RidhaNya lebih banyak. 

Kita berdoa, semoga saja besok umat Islam yang pencinta kekompakan, berlebaran Idul Fitri 1446 H pada hari yang sama. 

Mudah-udahan impian indah ini dapat tercipta, hingga berakhir bisa REUNIAN dalam surga-Nya kelak. Amiiin YRA.

Yang penting tidak mengatakan, “Semoga kita bertemu di pintu surga”. Kalimat ini keliru!
Kok mau bertemu di pintu surga, itu belum masuk bro, karena masih di pintunya. Seharusnya di dalam surga dong.

Masya Allah, pria Muslim yang selamat masuk surga, dihadiahi BIDADARI.
Perempuan Muslimah yang lolos di Pengadilan Akhirat, memperoleh BIDADARA.
Bencong alias Calabai Kote’ yang berhasil, Nullê Kapang Lolongeng BIDODORO.

Saudaraku,
Dalam beribadah tidak ada kata “aku” dalam berjamaah. Yang ada hanyalah “kita”.

Ingat pepata klasik

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. 
Bukan bersatu kita teguh, bercerai harus kawin lagi de. Takkala mi.

Yang terakhir ini Ongkona Tau Kabênê-bênê wê. Seperti teman di belakang rumah-ku, lima isterinya tujuhbelas anaknya. Masêlengnga’ mitai.

Empat isteri tuanya, 1 isteri paling muda-nya.

Dimana-mana pergi selalu membanggakan isteri tuanya.

Saya nanya “Kenapa bisa isteri tua-mu selalu engkau banggakan bro”?
Dia jawab “Aku selalu kenang jasa-jasa-nya”.

Aku penasaran mengejarnya, “Kok bisa kamu kenang jasa-jasa isteri tuamu”.

Dia bilang, “Dengar, saya punya empat rumah gara⊃2; isteri tua saya”.
“Saya punya 4 mobil berkat jasa⊃2;nya membantu saya mewujudkannya.” 
Pintahnya penuh meyakinkan.

“Saya pun punya tujuhbelas anak, berkat perjuangan dan doa isteri tua saya. Makanya, amat kukenang jasa-jasanya”, luar biasa semangatnya menjelaskan secara detail.

Lalu, saya merongrong terus pertanyaan, “Kalau itu 1 isteri mudamu, apanya yang engkau kenang bro”? Tanyaku penasaran mau mengetahui jejak eksentriknya.

Dia menjawab “Isteri mudaku bukan jasa⊃2;nya kuingat, tapi RASA-RASA NA”… 

 

Saudaraku, Ayo kompak berlebaran Idul Fitri 1446 H, Mohon Maaf Lahir & batin