Istilah imitasi dalam kehidupan sehari-hari sering kali diasosiasikan dengan sesuatu yang negatif, yaitu barang palsu atau tiruan. Kita mengenal tas palsu, sepatu palsu, jam palsu, hingga berbagai bentuk “kepalsuan” lain yang secara hukum dan etika jelas bermasalah. Tetapi “uang palsu” saya tidak sebutkan karena takut viral lagi ha ha.
Barang-barang imitasi umumnya muncul karena objek aslinya memiliki nilai (value) yang tinggi, baik dari sisi kualitas, simbol status, maupun harga. Semakin tinggi nilai suatu barang, semakin besar pula dorongan untuk menirunya secara tidak sah.
Namun, dalam kajian ilmu perilaku dan psikologi sosial, imitasi justru merupakan konsep fundamental dalam proses pembentukan perilaku manusia. Imitasi dipahami sebagai proses belajar dengan cara meniru perilaku orang lain, terutama figur yang dianggap signifikan atau memiliki otoritas, seperti orang tua, guru, atau tokoh panutan. Proses ini berlangsung secara alamiah, bahkan sering kali tanpa disadari.
Contoh sederhana dapat kita temukan dalam kehidupan keluarga. Seorang anak yang terbiasa makan sambil mengangkat satu kaki di atas kursi sering kali bukan karena ia diajarkan secara eksplisit, melainkan karena ia meniru kebiasaan ayahnya yang ia lihat setiap hari.
Demikian pula anak yang makan sambil berdecak atau berbicara keras, sering kali merefleksikan kebiasaan orang tuanya di meja makan. Dalam konteks ini, anak tidak sedang “membuat perilaku baru”, tetapi sedang mereplikasi pola yang ia anggap normal.
Lebih jauh, imitasi juga berperan dalam pembentukan nilai moral. Orang tua yang secara konsisten menunjukkan kejujuran, tanggung jawab, dan keterbukaan memiliki peluang lebih besar membentuk anak dengan nilai serupa. Akan tetapi, kontradiksi sering muncul dalam praktik sehari-hari. Misalnya, seorang ayah yang menasihati anaknya agar selalu jujur, tetapi pada saat yang sama meminta anak tersebut merahasiakan paket belanja online dari ibunya. Pesan implisit yang ditangkap anak bukanlah nasihat verbal, melainkan perilaku nyata yang ia saksikan.
Dalam pembelajaran perilaku kesehatan, anak meniru aksi nyata, bukan kata-kata: disuruh makan sehat tapi melihat ibu makan mie instan, dilarang merokok tapi menyaksikan asap mengepul keluar dari mulut bapak, dianjurkan tidur cukup tapi bapaknya scroll TikTok hingga larut malam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam proses imitasi, perilaku nyata jauh lebih berpengaruh dibandingkan instruksi lisan. Anak-anak dan individu pada umumnya cenderung meniru apa yang dilakukan, bukan apa yang dikatakan. Inilah sebabnya mengapa imitasi memiliki kekuatan besar dalam membentuk karakter, baik ke arah positif maupun negatif.
Perbedaan mendasar antara imitasi dalam konteks barang palsu dan imitasi dalam konteks perilaku terletak pada tujuan dan nilainya. Barang palsu meniru bentuk luar tanpa memiliki substansi dan kualitas yang sama dengan aslinya. Sebaliknya, imitasi perilaku yang sehat bertujuan untuk menginternalisasi nilai, bukan sekadar menampilkan kemiripan di permukaan.
Dalam konteks keagamaan, konsep ini tercermin dalam ajaran menjadikan Rasulullah sebagai uswatun hasanah (teladan yang baik). Meneladani Rasulullah tidak dimaknai sebagai meniru aspek simbolik semata, tetapi meniru nilai-nilai inti yang beliau praktikkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, amanah, kesederhanaan, empati, dan konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Dengan demikian, imitasi tidak selalu bermakna negatif. Imitasi justru menjadi sarana penting dalam proses belajar dan pembentukan karakter, selama yang ditiru adalah nilai dan perilaku yang memiliki kualitas moral dan sosial yang baik.
Tantangan bagi setiap individu, khususnya orang tua dan pemimpin, adalah menyadari bahwa setiap perilaku yang ditampilkan berpotensi menjadi contoh yang ditiru, disadari atau tidak.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah apakah manusia meniru atau tidak? karena meniru adalah keniscayaan, melainkan nilai apa dan siapa yang kita pilih untuk ditiru. Sebab, dari proses imitasi inilah karakter individu dan budaya masyarakat perlahan dibentuk.
Alat AksesVisi