Gambar I'TIKAF INDAHNYA MERENUNG DI MASJID


Bukankah merenung (tafakur) sesaat di rumah Allah, lebih baik daripada ibadah setahun? Termaktub dalam kitab Al-Munqizh Min Al-Dhalal-nya Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali. 

Merenung dan menenangkan diri lewat i'tikaf di masjid, terbuka kesempatan untuk mengenal diri sendiri. Saatnya melakukan kontemplasi secara menyeluruh, termasuk menakar kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. 

Dengan beritikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan di masjid, semua berharap hidayah-Nya datang pada malam Lailatul Qadar. 

Para malaikat berbondong⊃2; turun ke bumi pada malam kemuliaan itu, hingga bumi sulit menampung saking membludaknya malaikat ingin menebar ion-ion Rahmat-Nya. 
Menurut sebagian ulama, banyaknya malaikat merambah bumi, boleh jadi lebih banyak malaikat ketimbang jumlah butiran pasir di dunia. Ck ck ck.. 
Êga pa!

Mengapa mesti masjid dijadikan distrik perenungan i’tikaf? 

Ketahuilah, masjid merupakan tempat bertanam benih dan bibit amaliah yang amat pantas & layak.
Masjid mintakat menabur damai rahmat berkah ayat-ayat Allah.
Masjid sebagai sajadah sujud yang tak pernah lelah oleh al-Murrasyahun surga. 
Syahdan, masjid adalah pelabuhan bersimpuh dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Saudaraku,

Pergilah istirahat ke masjid sekaligus mengingat kebesaran-Nya melalui i'tikaf. 
Kini, momen untuk berkontemplasi dan merenung alias bermakrifat. 

Kecuali,
Bagi yang belum bisa beri'tikaf di masjid. 
Tetap merenunglah di mana saja kamu berada sep pengembala berikut ini. 

Suatu hari yang panas, seorang penggembala berteduh di bawah pohon kersen. 

Di tengah sepoi⊃2; angin, tiba-tiba ia melihat pohon kersen dan buah labu yang berdekatan.

Ia merenungi labu besar tumbuh di tanaman merambat, sementara buah kersen kecil tumbuh di pohon besar. 

"Saya tidak bisa mengerti jalan Allah ini!" Isi perenungan si Peternak.  

Sisêlê’i jê’..!! 
Mestinya buah kersen berpindah ke tunas labu, dan buah labu ke pohon kersen baru indah kelihatannya, sedap dipandang mata.

"Kok Allah membiarkan kersen kecil tumbuh di pohon besar dan labu pada tanaman merambat yang halus.”? Tilikan & angan-angan si penggembala. 

Berselang beberapa menit, tiba-tiba satu butir kersen jatuh tepat mengenai hidung penynya’na si penggembala.   

Dia terperanjat kaget, lalu bangkit meninggalkan tempat rebahannya. 

Seketika itu langsung menengadahkan tangan seraya berdoa.  "Maafkan aku Ya Rabb, Engkau Maha bijaksana. Apa yang terjadi andai labu tumbuh di pohon kersen mengenai batang hidungku, Nappakku Marenne’ Cui-cui, Mappenynyak ni Inge’ku”, demikian hasil perenungan sang penggembala.