Pada 1989 dalam rangkaian studi Program Magister saya  pada studi ekonomi pembangunan dan Demography, Population Studies di The Australian National University ( ANU) Canberra, 
saya  sempatkan mengikuti Seminar Dasar Ekonomi Baru (DEB), atau yang populer disebut New Economic Policy (NEP) Malaysia. Diselenggarakan di Universitas Malaya (UM) Kualalumpur.
DEB atau NEP ini dipolopori oleh Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir  Muhammad yang menggantikan Tengku Abdurrahman.  Kebijakan DEB atau NEP dimulai thn 1969. 
Tujuannya adalah supaya penguasaan permodalan 
ekonomi Malaysia terbagi merata pada 1/3,1/3, dan 1/3. 
Maksudnya penguasaan ekonomi Malaysia wajib 1/3 ( 33.3%) oleh pribumi Melayu Malaysia, 
lalu 1/3 (33.3%)
oleh non Melayu (Cina dan India), 
lalu 1/3 lagi oleh modal asing. 
Pada awal dimulainya DEB atau NEP ini, (thn 1969) pribumi Melayu Malaysia hanya menguasai 5% ekonomi Malaysia. 
Mayoritas (95%) dikuasai oleh non Melayu. 
Situasi ini menimbulkan kepincangan, kecemburuan, bahkan kerusuhan berdarah (riot) dalam Sejarah Malaysia. 
Kepincangan sosial yg sangat tajam di masyarakat Malaysia ini harus di akhiri.
Maka ketika anak muda, Mahathir Muhammad mengambil alih pemerintahan, dengan berani dilaksanakanlah DEB atau NEP (New Economic Policy) ini, dengan segala kebijakan yg menunjangnya.
Rangkaian  memajukan kemampuan ekonomi Pribumi Melayu, dilaksanakan kebijakan 
seperti pemajuan lahan pertanian antara lain dengan akses jalan mulus sampai ke seluruh pelosok desa. Bidang pendidikan,
 alokasi 1/3 kursi di PTinggi Malaysia harus diisi oleh anak Melayu dari desa. 
Juga menggencarkan Putra Melayu dikirim belajar di Eropah,
Amerika, Australia,
dan  ke Indonesia.
Saya dapati  di ANU (Australian National University) Canberra (1985-1987), lebih  banyak mahasiswa asal Malaysia di ANU dibanding mahasiswa Indonesia. 
Mengapa? 
Karena mereka dibiayai oleh pemerintahnya. Sedangkan Indonesia hanya yang memenangkan beasiswa dari lembaga asing yg jumlahnya terbatas. 
Kembali ke Seminar DEB atau NEP di Universitas Malaya Kualalumpur itu (1989), yaitu setelah 20 thn berlangsung DEB atau NEP itu(1969-1989).
Ternyata ditemukan bhw setelah 20 thn DEB atau NEP ini dijalankan, 
hasilnya kelompok Pribumi Melayu baru mencapai 18% penguasaan permodalan  ekonomi Malaysia. 
Masih sangat jauh dari rencana 33.3%. 
Perlu dicatat, struktur penduduk Malaysia Pribumi Melayu Malaysia 55%. 
China dan India 45%. 
Patut diperbandingkan di Indonesia ethnik China yg hanya 5% ,
menguasai 85% per ekonomian Indonesia.  Situasi ini sangat menggusarkan. Kegusaran itu  ditegaskan juga oleh  oleh KH. Miftahul Akhyar, Rais Aam PB NU ketika melantik PWNU Sulawesi Selatan(2019).
Betapa parahnya kepincangan penguasaan ekonomi Indonesia. 
Hasyim Aidid.
Makassar,29/1/2023.