Hasil karya seseorang sering menjadi ukuran dalam membentuk harga diri seseorang. Karena bekerja merupakan tuntutan, dorongan, dan kebutuhan semua orang seperti halnya kebutuhan akan makan, tidur, atau pun istirahat. Dapat dibayangkan sekiranya hanya satu hari kerja dalam sepekan, selebihnya kita menganggur tentu akan mengurangi penghasilan dan membuat kita tidak bahagia karena dapat menggerogoti harga diri. Salah satu yang dapat membuat orang bahagia adalah karena dia bekerja untuk meraih kebahagiaan dengan kerja produktif yang membawa manfaat bagi orang lain.
Hidup adalah anugerah Tuhan yang harus dirayakan dengan kerja kreatif, produktif, dan konstruktif. Seperti apa makna kerja seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin maju, selain dapat menciptakan suasana kerja yang nyaman juga tidak boleh kehilangan nilai produktivitas. Mencintai pekerjaan menjadi syarat utama, dapat dibayangkan jika seseorang melakukan pekerjaan karena terpaksa, maka hasilnya pun tidak akan maksimal.
Lebih jauh Islam memandang kerja bukan sebatas memenuhi kebutuhan hidup, melainkan sebagai ibadah. Itulah sebabnya Islam memandang bahwa setiap yang dikerjakan seseorang dapat bernilai ibadah jika memenuhi empat hal. Pertama, mencari ke-ridho-an Allah. Ketika seorang sahabat Nabi berkata: Ya Rasulullah sungguh beruntung si Fulan sekiranya usianya yang masih muda, tenaganya yang kuat digunakan untuk berjihad di jalan Allah?. Rasulullah menjawab: Jangan berkata begitu sahabatku, jika lelaki itu keluar dari rumahnya untuk bekerja agar dia tidak menjadi peminta-minta, jika dia keluar dari rumahnya untuk bekerja agar dapat memenuhi keperluan dan kebutuhan keluarganya, maka lelaki itu berjihad di jalan Allah.
Kedua, Jenis pekerjaan. Masyarakat kita sering menilai dan memilah pekerjaan kasar dan halus. Pekerjaan yang diselesaikan dengan otot dan yang diselesaikan dengan otak. Padahal, Islam tidak pernah membedakan kemuliaan suatu pekerjaan dengan kriteria seperti itu. Islam hanya memberi petunjuk sepanjang pekerjaan yang dilakukan dapat dipertanggung secara moral, pekerjaan apa pun itu dapat bernilai ibadah bagi pelakunya.
Abu Saad Al-Anshary salah seorang sahabat Nabi ketika berjabat tangan dengannya, Rasulullah berkata: “Duhai sahabatku, apa gerangan yang menyebabkan tanganmu melepuh, kasar, tidak mulus seperti tangan orang lain”. Abu Saad menjawab: Tangan ini saya gunakan memecah-belah batu untuk kemudian saya jual, saya juga menggunakan bertukang dan menggarap lahan pertanian karena saya juga seorang petani, mendengar jawaban itu Rasulullah mencium tangan Abu Saad sembari berucap “Tangan seperti inilah nanti yang selamat dari jilatan api neraka”, karena Abu Saad Al-Anshary tidak membeda-bedakan pekerjaan. Mana pekerjaan kasar, mana yang halus. Mana yang diselesaikan dengan otot, dan mana yang diselesaikan dengan otak.
Ketiga, cara kerja. Orang yang tidak berusaha mencintai pekerjaan yang dilakukan akan melakukan pekerjaan secara terpaksa, bahkan mereka yang mendasari pekerjaannya dengan kebencian akan melahirkan kepribadian yang terpecah/terbelah. Pasti tidak akan melahirkan ketenangan apalagi kebahagiaan dalam melaksanakan pekerjaannya. Pekerja seperti inilah yang bekerja asal jadi atau asal selesai. Padahal, Islam mengajarkan untuk melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya yang terinspirasi dari makna ihsan. Masyarakat modern menyebutnya dengan kerja-kerja profesional, bukan asal jadi bukan asal kerja.
Keempat, manfaat pekerjaan. Keutamaan satu pekerjaan dibanding dengan pekerjaan lainnya dinilai dari manfaatnya. Semakin banyak orang mengambil manfaat dari pekerjaan yang dilakukan, semakin tinggi kualitas pekerjaan itu. Demikian pula sebaliknya, semakin banyak orang yang menderita dan ter zalimi semakin besar tingkat dosanya. (*)