“Dok, pasiennya sudah siap.”
Seorang perawat kami yang bertugas di kamar operasi mengingatkanku ketika aku baru saja memasuki ruang OK, begitu kami biasa menyebutnya. Istilah yang ternyata berasal dari bahasa Belanda, operatie kamer, yang berarti ruang operasi.
Aku bergegas mengganti pakaian OK, mengenakan penutup kepala dan masker, lalu melangkah masuk.
Pagi itu, suasana kamar operasi terasa seperti biasa. Lampu-lampu terang, suara alat-alat medis, langkah kaki yang tergesa namun teratur, dan para petugas yang sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Namun, ada sesuatu yang terasa berbeda bagiku.
Aku menyapa seluruh tim, lalu mendekati pasien.
“Assalamu’alaikum, Bu”
Senyum kecil mengembang di wajahnya.
“Wa’alaikumussalam, Dok.”
Pasien ini , 43 tahun.
Usia yang tidak lagi muda untuk sebuah kehamilan. Pagi itu kami menjadwalkan operasi sesar karena posisi bayi sungsang, suatu malposisi yang membuat persalinan pervaginam tidak menjadi pilihan yang aman.
Tetapi di balik angka 43 tahun itu, ada sebuah perjalanan yang jauh lebih panjang.
Ada penantian selama 21 tahun.
Dua puluh satu tahun.
Bukan dua puluh satu hari. Bukan dua puluh satu bulan.
Dua puluh satu tahun menunggu sebuah doa yang menjadi nyata.
Aku memandang wajahnya beberapa saat.
Di balik senyum yang tampak tenang itu, aku membayangkan ada begitu banyak cerita yang tidak pernah kami ketahui.
Berapa kali ia ditanya,
“Sudah punya anak?”
Berapa kali ia harus tersenyum dan menjawab dengan sabar?
Berapa kali ia melihat teman-temannya menggendong anak bahkan mungkin cucu, sementara tangannya sendiri masih kosong?
Berapa banyak doa yang dipanjatkan dalam sunyi?
Dan berapa banyak malam yang mungkin dilalui dengan pertanyaan yang sama:
“Ya Allah, kapan waktunya?”
Namun Allah tidak pernah terlambat.
Kita saja yang sering terlalu cepat ingin melihat jawabannya.
Pagi itu, aku menyadari kembali bahwa tugas seorang dokter terkadang bukan hanya menyembuhkan penyakit.
Ada saatnya kita menjadi saksi dari sebuah doa yang akhirnya menemukan waktunya.
Dan ia mengajarkanku sesuatu bahwa:
Kesabaran bukan berarti berhenti berharap.
Kesabaran adalah tetap percaya, meskipun kita belum melihat jawabannya.
Dua puluh satu tahun adalah waktu yang panjang bagi manusia.
Tetapi bagi Allah, tidak ada yang terlalu lama.
Kita sering mengukur hidup dengan kalender. Allah mengaturnya dengan ketetapan-Nya.
Kita melihat usia, sementara Allah melihat kesiapan.
Kita melihat keterlambatan, sementara Allah mungkin sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih sempurna daripada yang kita bayangkan.
Aku menggenggam tangannya.
“bu, sebentar lagi kita bertemu dengan bayinya.”
Matanya berkaca-kaca.
Mungkin karena bahagia. Mungkin karena lega. Mungkin karena selama 21 tahun, kalimat sederhana itu adalah sesuatu yang begitu ingin ia dengar.
Aku pun ikut terdiam.
Di dalam kamar operasi, kami bekerja dengan ilmu, protokol, obat-obatan, dan berbagai teknologi medis. Tetapi pada akhirnya, ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada semua itu: kehendak Allah.
Dilakukan pembiusan spinal anstesi oleh kawan sejawat dokter anastesi. Lalu kami mulai dengan doa. Tim telah siap penuh.
Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara tangisan bayi. Tangisan yang kuat.
Tangisan pertama.
Suara yang mungkin sudah dinantikan selama dua puluh satu tahun.
Aku menoleh kepadanya...
“Bu… selamat, anda sudah menjadi seorang ibu”
Air mata mengalir di sudut matanya.
Di tengah suara monitor, instrumen bedah, dan kesibukan tim, aku seolah mendengar sebuah jawaban.
Jawaban dari doa yang panjang.
Jawaban dari kesabaran yang tidak pernah sia-sia.
Aku kembali teringat satu hal:
Allah tidak pernah menjanjikan bahwa doa kita akan dikabulkan sesuai waktu yang kita inginkan. Tetapi Allah menjanjikan bahwa Dia mendengar doa hamba-Nya.
Maka jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa doamu ditolak hanya karena belum dikabulkan.
Bisa jadi, Allah sedang berkata:
“Belum.”
Bukan “tidak.”
Dan kata belum dari Allah bisa menjadi bagian dari rencana yang sangat indah.
Ibu ini mungkin menunggu 21 tahun untuk memeluk anaknya.
Tetapi selama 21 tahun itu, Allah sedang mengajarkan kepadanya sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan apa pun:
tentang sabar,
tentang harap,
tentang ikhlas,
dan tentang percaya.
Hari ini, ia akhirnya memeluk buah dari penantiannya.
Dan aku, yang hanya menjadi saksi kecil dari kisah itu, pulang membawa pelajaran besar:
Jangan pernah meremehkan doa yang belum menemukan waktunya.
Sebab kita tidak pernah tahu, mungkin di balik satu kata “belum”, Allah sedang menulis sebuah cerita yang kelak membuat kita berkata:
“Ya Allah… ternyata selama ini Engkau tidak pernah meninggalkanku.
Engkau hanya sedang mempersiapkan waktu yang tepat."
......
“Bagi seorang yg beriman, kelapangan adalah jalan syukurnya. Dan kesempitan adalah jalan sabarnya. Keduanya adalah jalan mendekat kepadaNya. ( Dedy irawan)