Gambar Pentingnya Ta'aruf Dosen Antargenerasi

Pukul 10.50 WITA, jadwal saya mengajar di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Sudah dua kali pesan WhatsApp masuk dar mahasiswa,  menjelang dan saat waktu perkuliahan tiba. Saya sedikit terlambat menuju kelas karena masih menyelesaikan bimbingan karya tulis mahasiswa di raung kerja.

Sambil menaiki tangga, saya kembali memastikan ruang kuliah yang harus dituju. Tertulis T3.18, yang berarti lantai tiga, ruang 18.

Sesampainya di kelas, waktu sudah menunjukkan pukul 11.05. Saya masuk ruangan sambil mengucapkan salam, seperti biasa langsung memulai perkuliahan.

Namun, saat saya masuk kelas mahasiswa masih duduk serius mendapatkan pengarahan dari seseorang yang saya anggap sesama mahasiswa, yang saat itu juga langsung menghentikan kegiatannya.

Karena langsung menghilang di ruangan maka saya bertanya kepada mahasiswa apakah tadi seniornya yang  melakukan sosialisasi atau teman kelasnya saja?

Awalnya memang, saya mengira mahasiswa sedang berdiskusi, mengisi keterlambatan saya. Apalagi, ketua kelas sudah dua kali menghubungi dosennya. Saya pun melanjutkan perkuliahan sebagaimana mestinya.

Setelah perkuliahan berlangsung, saya mencari tahu siapa sosok yang tadi berdiri di depan kelas, tetapi sudah tidak tampak lagi. Saya sempat melihat beberapa lembar kertas yang telah dirapikan di atas meja. Saya kemudian bertanya kepada mahasiswa, apakah orang tadi teman mereka atau seorang senior.

Jawaban mereka cukup membuat saya agak heran karena dijawabnya: “Dosen, Prof.”

Pengalaman sederhana ini yg membuat saya berpikir bahwa memang perlu ada ta‘aruf antara dosen senior dan dosen junior di lingkungan kampus.

Ta‘aruf bukan sekadar saling mengenal nama dan wajah, melainkan juga membangun kedekatan, komunikasi, dan pemahaman terhadap peran masing-masing. Sebab, di tengah kesibukan akademik, tidak semua dosen memiliki kesempatan untuk saling mengenal secara lebih dekat.

Kampus bukan hanya ruang untuk berbagi ilmu kepada mahasiswa, tetapi juga ruang untuk membangun kebersamaan di antara sesama pendidik. Pengalaman dan kebijaksanaan dosen senior merupakan kekayaan institusi, sementara semangat dan gagasan dosen muda adalah energi bagi kemajuan perguruan tinggi.

Senioritas akan lebih bermakna ketika melahirkan keteladanan, dan kemudaan akan lebih bernilai ketika tumbuh bersama penghormatan serta semangat belajar.

Barangkali, dari peristiwa sederhana di sebuah ruang kuliah, kita diingatkan kembali bahwa membangun budaya akademik yang sehat dapat dimulai dari hal yang paling mendasar: saling mengenal, saling menyapa, dan saling menghargai.