Gambar Merindukan Hujan di Tengah Kemarau Panjang

Sejak kemarin, grup WhatsApp saya yang terhubung dengan komunitas masyarakat Kalimantan, baik grup keluarga maupun komunitas, dipenuhi unggahan foto dan video turunnya hujan di wilayah mereka. Unggahan-unggahan itu bukan sekadar dokumentasi peristiwa alam, melainkan ekspresi kebahagiaan yang membuncah setelah berbulan-bulan menantikan kehadirannya.

Betapa tidak, kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah telah menghadirkan persoalan serius. Asap tebal dan pekat akibat kebakaran hutan dan lahan bukan hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga melumpuhkan sebagian aktivitas masyarakat, termasuk perjalanan darat. Menurut penuturan keluarga saya, ketika asap mencapai kondisi terparah, jarak pandang di jalan raya hanya berkisar 3–5 meter. Situasi demikian tentu bukan sekadar persoalan ketidaknyamanan, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan pengguna jalan.

Ada saat ketika hujan menjadi sesuatu yang ingin kita hindari, tetapi ada pula masa ketika kehadirannya begitu dirindukan. Demikian pula panas. Pada waktu tertentu, sinar matahari dinantikan untuk mengeringkan pakaian, menjemur hasil panen, dan menerangi hari-hari yang mendung. Namun, ketika panas berlangsung terlalu lama, tanah mengering, pepohonan kehilangan kesegarannya, dan udara terasa semakin menyesakkan. 

Hujan dan panas, dua fenomena alam yang silih berganti, mengajarkan bahwa sesuatu yang kita inginkan pada suatu waktu belum tentu kita kehendaki pada waktu yang lain.

Barangkali, di situlah letak pelajaran kehidupan. Kita sering kali baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah kita merasakan kehilangan atau kekurangan atasnya.

Hari-hari ini, ketika sejumlah wilayah Indonesia menghadapi kemarau, kekeringan, dan kebakaran hutan, kerinduan terhadap hujan bukan lagi sekadar harapan agar cuaca menjadi sejuk. Hujan menjadi simbol keselamatan, kesehatan, dan keberlangsungan hidup. Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan asap pekat yang mencemari udara, mengganggu pernapasan, membatasi aktivitas masyarakat, bahkan mengancam kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Dalam situasi demikian, panas bukan lagi sekadar persoalan kenyamanan, melainkan persoalan kemanusiaan dan lingkungan.

Kerinduan terhadap hujan semestinya tidak berhenti pada permohonan agar air segera turun dari langit. Ia perlu menjadi momentum untuk melakukan refleksi yang lebih mendalam. Apakah kita hanya ingin hujan datang, atau juga bersedia memperbaiki cara kita memperlakukan bumi?

Dalam perspektif keagamaan, manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa mutlak alam, melainkan sebagai khalifah yang memikul tanggung jawab untuk merawat dan menjaga keseimbangannya. Alam bukan sekadar objek yang dapat dieksploitasi demi kepentingan ekonomi, tetapi ruang kehidupan bersama yang harus diwariskan dalam keadaan layak kepada generasi mendatang.

Karena itu, kebakaran hutan tidak cukup dipandang sebagai musibah musiman. Ketika kebakaran terjadi berulang kali, kita juga perlu mempertanyakan tata kelola lingkungan, praktik pembukaan lahan, penegakan hukum, dan kesungguhan kita menjaga hutan.

Doa dan ikhtiar ekologis seharusnya berjalan beriringan. Kesalehan tidak hanya tercermin dalam hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga dalam tanggung jawabnya terhadap sesama manusia dan alam semesta.

Hujan memang tidak selalu membawa kebahagiaan. Ketika turun berlebihan, ia dapat menghadirkan banjir, longsor, dan penderitaan. Sebaliknya, panas pun tidak selalu menjadi ancaman. Matahari dibutuhkan untuk kehidupan, pertanian, dan berbagai aktivitas manusia. Keduanya menjadi rahmat ketika hadir dalam keseimbangan, tetapi dapat berubah menjadi bencana ketika keseimbangan itu terganggu.

Persoalan sesungguhnya bukanlah memilih antara hujan atau panas, melainkan belajar memahami batas dan keseimbangan. Alam memiliki ritmenya sendiri, tetapi tindakan manusia turut menentukan seberapa besar dampak yang harus ditanggung ketika kondisi alam berubah.

Sungguminasa 31 Oktober 2026