Pesawat meninggalkan Jakarta menuju Madinah.
Dari balik jendela, lampu-lampu kota perlahan menghilang. Di dalam kabin, para jamaah mulai tenang. Sebagian memejamkan mata, sebagian membaca doa. Aku justru terpaku pada layar kecil di depan kursi: garis perjalanan bergerak perlahan menuju Madinah.
Kami sedang menempuh jarak. Antar negara.
Tetapi tanpa disadari, kami juga sedang berpindah waktu.
Jakarta berada di zona UTC+7, sedangkan Madinah UTC+3. Ada perbedaan empat jam. Ketika siang telah tiba di Jakarta, Madinah masih menikmati pagi. Bumi yang sama, matahari yang sama, tetapi jam menunjukkan waktu yang berbeda.
Waktu ternyata tidak hanya tentang angka. Ia adalah cara manusia membaca perubahan.
Kita mengukurnya dengan jam, membaginya dengan kalender, lalu menyebutnya masa lalu, hari ini, dan masa depan.
Padahal waktu tidak pernah dapat kita pegang.
Ia berlalu.
Dan setiap kali ia lewat, sesuatu dalam diri kita ikut berubah.
Anak menjadi dewasa.
Rambut menguban.
Dewasa menjadi renta.
.........
Ada orang berkata, waktu adalah penyembuh luka.
Barangkali benar, tetapi waktu tidak selalu menghapus luka.
Ia hanya mengajarkan kita cara hidup bersama luka itu.
Yang dahulu membuat kita jatuh, perlahan menjadi pelajaran.
Yang dahulu terasa sebagai akhir, suatu hari menjadi bagian dari kedewasaan.
Al-Qur'an bahkan mengingatkan manusia dengan sangat tegas:
"Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian".
QS. Al-'Asr: 1–2»
Mengapa manusia rugi?
Karena waktu yang berlalu tidak pernah kembali.
Uang yang hilang mungkin dapat dicari. Kesalahan mungkin dapat diperbaiki. Tetapi satu detik yang telah pergi tidak dapat dibeli kembali.
Kita sering berkata, "Nanti."
Nanti meminta maaf.
Nanti berbuat baik.
Nanti memperbaiki ibadah.
Nanti menemui orang tua.
Padahal kita tidak pernah benar-benar memiliki hari esok.
Yang kita miliki hanyalah saat ini.
Pesawat semakin mendekati Madinah. Aku kembali memandang keluar jendela.
Tiba-tiba perjalanan ini terasa seperti gambaran kehidupan.
Ada keberangkatan. Ada perjalanan. Ada tujuan.
Kita tidak tahu berapa lama perjalanan kita. Yang kita tahu, setiap detik membawa kita semakin dekat kepada tujuan akhir.
Maka waktu bukanlah sesuatu yang harus kita kejar.
Kitalah yang sedang dikejar waktu.
Setiap tahun umur kita bertambah satu angka, tetapi sesungguhnya persediaan hidup berkurang.
Barangkali itulah hikmah terbesar dari waktu:
hidup bukan tentang berapa lama kita tinggal, tetapi tentang apa yang kita lakukan selama diberi kesempatan untuk tinggal.
Pesawat akhirnya mendarat di Madinah.
Perjalanan dari Jakarta selesai.
Tetapi perjalanan yang lebih penting baru dimulai:
perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik sebelum waktu benar-benar selesai membawa kita pulang.
Sebab pada akhirnya, kita semua akan meninggalkan dunia. Dan itu pasti!
Dan ketika saat itu tiba, yang paling berharga bukanlah berapa banyak waktu yang pernah kita miliki.
melainkan untuk apa waktu itu kita pergunakan.