Setiap 8 September dunia memperingati Hari Aksara Internasional. Tahun 2026, peringatan ini mengusung tema “Literacy for People, Planet and Prosperity”, sekaligus menandai 60 tahun Hari Aksara Internasional. Tema ini mengingatkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan menggunakan pengetahuan untuk memahami kehidupan dan membangun masa depan.
Bagi Indonesia, momentum ini terasa semakin penting setelah OECD merilis hasil PISA 2025. Skor membaca Indonesia berada pada 365 poin, sedangkan rata-rata OECD 461 poin. Hanya 27 persen peserta didik Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca, dibandingkan 69 persen rata-rata OECD. Pada level minimum ini, peserta didik diharapkan mampu menemukan informasi, mengenali gagasan utama, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika diarahkan. Sementara itu, peserta didik pada Level 5–6 sudah mampu memahami teks kompleks dan membedakan fakta serta opini berdasarkan petunjuk tersirat. Di Indonesia, hampir tidak ada peserta didik yang mencapai Level 5 atau lebih.
Angka tersebut seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai peringkat. Ia adalah cermin bagi pembelajaran membaca kita. Sebab, anak yang mampu melafalkan kalimat belum tentu memahami maknanya. Anak yang lancar membaca belum tentu mampu menyimpulkan. Anak yang dapat menjawab pertanyaan dari teks belum tentu mampu menilai apakah informasi itu benar, bias, atau dapat dipercaya. Di sinilah guru SD/MI memegang peranan penting.
Dari Bisa Membaca Menjadi Mampu Berpikir
Pembelajaran membaca perlu bergerak dari reading the text menuju reading to think. Pada kelas awal, guru tetap harus membangun fondasi: kesadaran bunyi, hubungan huruf dan bunyi, kosakata, pengenalan kata, kelancaran, serta pemahaman. Namun, fondasi tersebut jangan diajarkan secara terpisah dari makna.
Ketika anak membaca kalimat “Budi membuang sampah ke tempat sampah”, misalnya, guru tidak berhenti pada kelancaran membaca. Guru dapat bertanya: Mengapa Budi membuang sampah di sana? Apa yang terjadi jika sampah dibuang sembarangan? Apakah kamu pernah melihat kejadian serupa? Pertanyaan sederhana mengubah aktivitas membaca menjadi aktivitas berpikir.
Pada kelas tinggi, tuntutan harus meningkat. Guru perlu membiasakan pertanyaan seperti: “Dari mana kamu tahu?” “Bagian mana dari teks yang menjadi bukti?” “Apa yang tersirat?” “Apakah pendapat penulis dapat dipercaya?” “Apakah ada informasi lain yang perlu dibandingkan?” Dengan demikian, membaca bukan sekadar mencari jawaban, tetapi membangun alasan berdasarkan bukti.
Ajarkan Strategi, Bukan Sekadar Memberi Bacaan
Pemahaman tidak tumbuh otomatis setelah anak lancar membaca. Guru perlu mengajarkan strategi membaca secara eksplisit: memprediksi, mengajukan pertanyaan, mengklarifikasi, membuat inferensi, menemukan gagasan utama, merangkum, dan mengevaluasi informasi.
Pola sederhana dapat digunakan:
Prediksi → Baca → Tanya → Klarifikasi → Simpulkan → Refleksi.
Misalnya, sebelum membaca teks tentang banjir, guru menunjukkan gambar sungai yang dipenuhi sampah. Anak diminta memprediksi penyebab banjir. Setelah membaca, mereka memeriksa apakah prediksinya benar berdasarkan informasi dalam teks. Selanjutnya, mereka menyusun kesimpulan dan menjelaskan bukti yang ditemukan. Proses tersebut melatih anak menjadi pembaca aktif, bukan penerima informasi pasif.
Jadikan Lingkungan sebagai “Buku”
Guru juga tidak harus selalu menggunakan teks dari buku paket. Lingkungan sekolah dapat menjadi sumber literasi: poster kebersihan, jadwal piket, pengumuman, label tanaman, berita lokal, cerita rakyat, hingga informasi tentang air, sampah, kesehatan, dan perubahan lingkungan.
Teks yang dekat dengan kehidupan membuat membaca memiliki tujuan.
Lebih penting lagi, guru perlu menciptakan kelas yang dialogis. Anak diberi kesempatan menjelaskan pemahamannya, mempertanyakan teks, mendengarkan pendapat teman, dan mempertahankan jawabannya dengan bukti. Membaca akhirnya menjadi proses sosial dan kognitif.
PISA 2025 sendiri menunjukkan bahwa tantangan membaca bukan hanya persoalan Indonesia. Rata-rata skor membaca negara-negara OECD turun 28 poin sejak 2015, dan OECD menegaskan pentingnya kemampuan mengevaluasi informasi, menghubungkan berbagai sumber, dan berpikir kritis dalam menghadapi dunia digital. Karena itu, kita tidak boleh menjadikan PISA sebagai tujuan pendidikan. PISA seharusnya menjadi cermin untuk memperbaiki proses.
Perubahan itu dimulai dari ruang kelas. Guru kelas awal membangun fondasi membaca. Guru kelas tinggi mengembangkan pemahaman, inferensi, evaluasi, dan argumentasi. Semua guru perlu menyadari bahwa membaca adalah tanggung jawab lintas mata pelajaran.
Pada akhirnya, pertanyaan guru setelah anak membaca jangan berhenti pada, “Sudah selesai?”
Ubahlah menjadi:
“Apa yang kamu pahami?”
Lalu:
“Dari mana kamu tahu?”
Dan akhirnya:
“Apa yang akan kamu lakukan dengan pemahaman itu?”
Jika pertanyaan itu menjadi budaya di SD/MI, kita tidak sekadar melahirkan anak yang melek aksara.
Kita sedang menumbuhkan generasi yang mampu membaca, memahami, berpikir kritis, dan menggunakan pengetahuannya untuk memperbaiki kehidupan. Selamat Hari Aksara Internasional 2026.