facebook

twitter

email
Bahasa :
Jumat, 16 November 2018


Oleh: Hafsan | 16 Oktober 2018

Tenaga pendidik dan peneliti pada Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar


Jasad renik atau mikroorganisme tak kasat mata seperti bakteri yang keberadaan dan perannya seringkali tidak disadari oleh manusia, hingga saat ini masih menyisakan harapan-harapan baru untuk terus menghasilkan berbagai inovasi dalam berbagai aspek kehidupan manusia, tak terkecuali dalam pengembangan bidang peternakan berikut solusi permasalahan terkait bidang tersebut. Dalam bidang peternakan misalnya, diketahui bahwa salah satu aspek utama dalam usaha industri peternakan adalah pakan. Hal ini karena kualitas pakan akan bermuara pada produktivitas ternak. Di sisi lain, kualitas pakan sangat ditentukan oleh kandungan dan ketersediaan nutrisinya untuk memenuhi kebutuhan ternak selama masa pemeliharaan.  Berbagai formulasi pakan terus dikembangkan demi mencapai produktivitas yang optimum, dan konsekuensi dari upaya-upaya tersebut tak jarang berimplikasi pada merangkaknya biaya produksi pakan. Terkhusus pakan unggas misalnya, sebagai akibat dari komposisi utama pakan yang merupakan tanaman biji-bijian/ serealia, pakan unggas mengandung suatu senyawa antinutrisi yang disebut sebagai fitat yang tiada lain merupakan bentuk utama penyimpanan fosfor pada tanaman yang digunakan sebagai bahan pakan tersebut.

Keberadaan fitat dianggap sebagai zat antinutrisi dalam pakan unggas karena mampu mengikat mineral penting bervalensi dua, seperti kalsium, besi, seng, magnesium, mangan dan tembaga disamping nutrisi lain seperti protein atau asam amino. Bentuk ikatan fitat dengan nutrisi-nutrisi pada pakan menyebabkan nutrisi tersebut dapat menurunkan daya cerna unggas terhadap fosfor, demikian halnya terhadap protein dan mineral-mineral lain yang terdapat pada pakan karena tidak dapat terhidrolisis dalam saluran pencernaan dan atau mengakibatkan penurunan tingkat ketersediaannya untuk dimetabolisme oleh unggas.  Fitat juga dapat membentuk kompleks dengan protein enzim-enzim pada saluran pencernaan sehingga menyebabkan penurunan aktivitasnya, dan hal tersebut dapat mengakibatkan penurunan daya cerna dan nutrisi secara keseluruhan.

Untuk memenuhi kebutuhan fosfor dan kalsium bagi unggas yang sangat rendah ketersediannya pada pakan, biasanya industri pakan menambahkan fosfor dan kalsium anorganik seperti dikalsium fosfat (DCP) dalam pakan dan akibatnya selain menyebabkan ektra biaya, juga dapat menyebabkan terjadi peningkatan jumlah fosfor yang terbuang bersama kotoran ke lingkungan, dan secara simultan dapat berimplikasi pada kerusakan ekologis, yaitu bermuara pada terjadinya eutrofikasi perairan. Demikian halnya untuk memenuhi kebutuhan protein dan asam amino bagi unggas, maka perlu ditambahkan sumber protein yang tentu saja penambahan tersebut akan berimplikasi pada peningkatan biaya produksi pakan.

Pada prinsipnya untuk utilisasi nutrisi pakan yang maksimal, perlu dilakukan penanganan zat antinutrisi fitat tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui penambahan enzim yang memiliki kemampuan untuk “memecah” fitat tersebut, sehingga fosfor menjadi tersedia serta mineral penting lainnya dan protein maupun asam amino menjadi bebas dan dapat dicerna oleh unggas. Fitase merupakan salah satu jawaban atas permasalahan tersebut, pemanfaatan fitase sebagai imbuhan pakan (feed additive) pakan non nutrisi dapat menjadi pilihan dalam formulasi pakan inovatif untuk meningkatkan nilai gizi pakan unggas melalui meningkatkan pemanfaatan nutrisi, diantaranya peningkatan pemanfaatan fosfor dan kalsium pada pakan, penyerapan asam amino dan kemampuan mencerna bahan pakan.

Beberapa studi dari masa ke masa menunjukkan bahwa suplementasi fitase ke dalam pakan unggas mampu meningkatkan pertumbuhan karena meningkatnya kecernaan nutrisi, dan bermuara pada efisiensi ekonomi dan menekan cemaran fosfor terhadap lingkungan. Hal ini menstimulasi para peneliti untuk terus melakukan eksplorasi fitase dengan karakteristik dan keunikan dari berbagai sumber untuk menggali potensinya. Afirmasi terhadap hasil-hasil studi sebelumnya, pemanfaatan fitase sebagai upaya peningkatan kualitas pakan untuk meningkatkan produktivitas broiler telah diujicobakan kembali. Telah diproduksi fitase dalam skala laboratorium dari salah satu bakteri endofit yang diisolasi dari akar jagung yang teridentifikasi dengan pendekatan molekuler sebagai strain penghasil fitase baru yaitu Bukholderia sp. strain HF.7. Fitase yang diproduksi dengan bentuk sediaan yang telah melalui proses liofilisasi yaitu metode pengeringan beku dengan prinsip sampel fitase yang bersifat sensitif terhadap panas, dibekukan dan diterapkan secara vakum hingga air akan tersublimasi tanpa meleleh dengan alat freeze dryer. Serangkain uji stabilitas dan optimasi serta hidrolisis secara invitro dilakukan sebelum pengujian invivo terhadap Day Old Chick (DOC) strain Cobb selama lima minggu pemeliharaan. Broiler dengan pemberian pakan rendah protein, fosfor dan kalsium yang disuplementasi fitase Bukholderia sp. strain HF.7 menunjukkan performa yang secara signifikan lebih baik dibandingkan broiler dengan pakan tinggi protein dan tambahan fosfor dan kalsium anorganik berupa DCP. Hal ini mengindikasikan bahwa sumplementasi fitase yang berasal dari si “renik” Bukholderia sp. strain HF.7 dapat meningkatkan kualitas pakan menuju produktivitas yang maksimal dengan biaya yang minimal, dan yang tak kalah pentingnya adalah mengarah pada peternakan yang ramah lingkungan karena mampu menekan jumlah pencemar fosfor yang terbuang ke lingkungan ternak. Kesemuanya merupakan  tanda kebesaran dan  kekuasaan Allah Azza wa Jalla, bahwasanya yang diciptakanNya di langit dan di bumi dan di antara keduanya, tidaklah diciptakan dengan sia-sia, tetapi mengandung tujuan, yaitu untuk kemashlahatan makhluk-makhlukNya

Kotak Komentar


[ Kembali ]

Saat memanfaatkan fasilitas internet kampus anda lebih banyak menggunakannya sebagai sarana:

Pembelajaran
Informasi Kampus
Pertemanan (Situs Jejaring)
Saya Belum Mencobanya

Lihat Hasil Poling
08 Oktober 2016

Oleh : Nursyam Aksa, S.T, M.Si.
Teknik PWK UIN Aauddin Makassar


Dari banyak literatur tentang sejarah ... Selengkapnya



07 September 2016

MENGEMBANGKAN TEKNOLOGI INFORMASI & KOMUNIKASI (TIK)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

Selengkapnya



Artikel Sebelumnya

oleh: Hafsan
16 Oktober 2018

Tenaga pendidik dan peneliti pada Jurusan ... Selengkapnya



oleh: Nur Fadhilah Bahar
28 Desember 2016

Hasrullah, Mahasiswa Polyglot UIN Alauddin

Peraih ... Selengkapnya



kirimkan Opini anda
ke [opini(at)uin-alauddin.ac.id]