facebook

twitter

email
Bahasa :
Kamis, 23 Maret 2017


Oleh: Muh Quraisy Mathar | 09 November 2016

Alih media merupakan sesuatu yang jamak dalam peradaban manusia. Tradisi menggurat dinding gua dan batang pohon pada periode manusia kuno, beralih ke tradisi menyulam, menjahit dan mencetak simbol huruf-huruf awal pada peradaban Babylonia dan Sumeria. Media penyimpanan data yang awalnya berbentuk batu dan kayu pun beralih menjadi media kain dan logam.


Ribuan tahun kemudian, media tersebut beralih lagi saat peradaban Mesir kuno (Ptolemy I dan II) menemukan media penyimpanan data baru dalam bentuk papyrus, sejenis kanvas yang terbuat dari rumput dan lumut yang banyak tumbuh di sepanjang tepi sungai Nil. Hampir seluruh data peradaban Yunani kuno, Mesir kuno dan Romawi kuno tersimpan di media papyrus tersebut. Pada saat yang hampir semasa dengan papyrus, sebuah dinasti kuno di China pun melakukan revolusi alih media penyimpanan data. Dinasti tersebut membuat prototype mesin cetak yang memproduksi cikal bakal kertas yang berbahan dasar bambu. Prototype mesin cetak tersebut selanjutnya menginspirasi dibuatnya sebuah mesin cetak berbahan dasar logam dengan huruf-huruf Persia yang dibuat pada periode kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Mesin cetak tersebut selanjutnya dibawa ke Roma dan oleh sebagian orang dianggap sebagai cikal bakal diproduksinya mesin cetak bermesin uap untuk menggandakan Injil oleh Guttenberg pada fase revolusi industri di Eropa.


Peralihan media penyimpanan data juga ikut merubah konteks data itu sendiri, dari tergurat menjadi tersulam, terukir, tercanting, tertulis, hingga tercetak. Seluruh manusia yang ikut berproses pada setiap fase peralihan media tersebut akan selalu disebut sebagai imigran yang berimigrasi dari proses pendokumentasian model lama ke model yang baru. Sejak revolusi industri, kita sebetulnya tak lagi memiliki penulis sungguhan, sebab sejak saat itu sampai hari ini para penulis kita tak lagi pernah menulis, seluruhnya menjadi pengetik di media yang awalnya adalah mesin ketik manual lalu beralih lagi ke keyboard komputer yang kini bahkan telah beralih lagi menjadi layar datar menyala dan berwarna dengan tombol dan gambar digital yang sering kita sebut dengan touch screen. Sekali lagi media itu beralih, dan sekali lagi manusia kembali berimigrasi dalam tradisi pendokumentasiannya.


Sebelum lahirnya benda-benda yang saat ini disebut dengan teknologi, manusia adalah classical documenter, generasi yang masih menyimpan data dengan cara-cara klasik. Lalu komputer muncul sebagai salah satu keajaiban dunia baru. Bumi menjadi global space yang tak lagi jelas batasnya. Telepon, telegram, teleskop, televisi, serta tele-tele yang lain seakan menjadi kompilasi jawaban pada fase classical documenter yang hanya mengenal satu tele, yakni telepati. Manusia pun menjadi generasi teknologi yang seluruhnya bermuara kepada penggunaan komputer. Generasi teknologi, generasi komputer yang kini akan kembali berimigrasi ke fase digital. Generasi kita hari ini pun kembali terbagi menjadi digital immigrant dan digital native. Dua generasi yang mewakili peralihan masa lalu dengan masa yang akan datang.


Digital immigrant adalah generasi yang sudah hidup sejak sebelum dan saat fase digital. Sebut saja para orang tua kita yang telah bertelepon genggam di kampung, namun hari ini “terpaksa” harus menggunakan hp touch screen sebab hp model tuts manual sudah mulai hilang dari pasaran. Sebut juga para guru atau dosen senior yang awalnya sangat familiar dengan projector manual “terpaksa” harus menginstal dan mensinkronisasi komputernya dengan program berbasis bluetooth, wifi, dan nirkabel agar dapat terkoneksi dengan LCD yang juga sudah 4G. Sebut juga saya sendiri yang begitu teramat asing dengan sejumlah aplikasi digital yang ditawarkan, baik berbayar maupun yang gratisan melaui sejumlah provider dan produsen media-media tersebut. Sebagian kita hari ini menjadi digital immigrant yang kembali harus menanggung resiko terjadinya peralihan media. Saya menjadi tersadar bahwa ternyata tak satu pun dari kita yang dulu, kini, dan nanti, pada waktunya tetap akan gatek (gagap teknologi) sebab media dan peradaban terus beralih ke media dan peradaban selanjutnya.


Anak-anak muda saat ini menjadi digital native. Generasi yang sejak lahir sudah bersentuhan dengan mesin-mesin dan peradaban digital. Sejak dalam kandungan di USG dengan mesin digital. Lahir, diletakkan di incubator dengan alat pengatur suhu digital. Sekolah dengan alat bermain dan buku-buku digital. Berinteraksi dengan kawan-kawannya dengan model dan alat digital. Bahkan untuk sekedar menunjukkan kesukaannya cukup dengan mengklik tanda jempol sebagai tanda like atau suka. Generasi yang terbiasa menunjukkan ketertawaannya hanya dengan mengetik hehehe atau wkwkwk. Suka atau tidak, kita sedang berada pada fase ini. Fase dimana digital immigrant sedang berbenturan dengan digital native. Fase peralihan media dan peradaban yang terus akan seperti itu sampai Sang Pemilik Fase itu akan mengambil seluruh media dan peradabanNya kembali.

Kotak Komentar


[ Kembali ]

Saat memanfaatkan fasilitas internet kampus anda lebih banyak menggunakannya sebagai sarana:

Pembelajaran
Informasi Kampus
Pertemanan (Situs Jejaring)
Saya Belum Mencobanya

Lihat Hasil Poling
08 Oktober 2016

Oleh : Nursyam Aksa, S.T, M.Si.
Teknik PWK UIN Aauddin Makassar


Dari banyak literatur tentang sejarah ... Selengkapnya



07 September 2016

MENGEMBANGKAN TEKNOLOGI INFORMASI & KOMUNIKASI (TIK)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

Selengkapnya



Artikel Sebelumnya

oleh: Nur Fadhilah Bahar
28 Desember 2016

Hasrullah, Mahasiswa Polyglot UIN Alauddin

Peraih ... Selengkapnya



oleh: Muh Quraisy Mathar
09 November 2016

Alih media merupakan sesuatu yang jamak dalam peradaban manusia. Tradisi menggurat ... Selengkapnya



kirimkan Opini anda
ke [opini(at)uin-alauddin.ac.id]
  1. STATISTIK
PENGUNJUNG ONLINE


TOTAL PENGUNJUNG
10802429 pengunjung